Saturday, March 31, 2007

Antara Agresif, Pasrah Dan Proaktif

Jodoh adalah rahasia Allah swt, yang kadang tak terduga datangnya. Dalam masa 'penantian' yang tak kunjung datang, seorang akhwat dapat memilih untuk bertindak yang sesuai dengan keinginannya. Ada tiga bentuk sikap yang bisa dilakukan oleh para muslimah dalam masa penantian ini, yakni; agresif, pasrah dan proaktif.

Karena terlalu cemas, ada sebagian yang memilih untuk bersikap agresif. Melakukan pendekatan kepada siapapun yang dianggap potensial untuk menjadi pasangan hidup dengan berbagai cara. Kadang tanpa perduli norma dan aturan agama. Sikap ini ini bisa 'membahayakan' bagi seorang perempuan. Karena ketergesa-gesaannya bisa berakibat tidak baik. Misalnya saja dia tidak akan selektif dalam memilih siapa calon suaminya. Kriteria-kriteria suami idaman pun kabur tertiup oleh desakan-desakan keluarganya. Akibat yang paling buruk dari sikap ini adalah timbul penyesalan dikemudian hari. Tumbuhnya kekecewaan pada pasangan karena tidak terlalu mengenal karakternya yang berujung pada perceraian. Naudzubillah min dzalik !

Sikap kedua adalah sikap pasrah, sikap ini biasanya memiliki alasan, " ya.daripada jadi perawan tua, lebih baik saya terima." Ada mungkin sebagian akhwat yang berfikir demikian, atau akan berfikir demikian. Biasanya ia tidak kuat menahan desakan orang tua atau keluarganya. Karena orang tua tidak ingin melihat anaknya menjadi perawan tua, maka ia mencarikan jodoh buat anaknya. Seandainya orang tua memahami betul criteria-kriteria seorang suami yang sholeh, maka hal ini tentunya baik bagi si gadis, akan tetapi akan menjadi permasalahan yang serius ketika orang tuanya asal mencarikan laki-laki yang menjadi calon pasangan anaknya.

Kebanyakan orang tua sekarang pertimbangannya sangat pragmatis. Dia mencari jodoh buat anaknya dengan hanya menggunakan pertimbangan materi. Sehingga laki-laki yang dianggap berkecukupan, memiliki pekerjaan tetap maka dia layak jadi menantunya. Pertimbangan agama sama sekali dikesampingkan.

Dalam hal inilah sang akhwat dalam posisi dilematis. Untuk menolak jelas tidak mungkin, karena dia tidak punya alternative. Untuk menerima terasa berat, karena laki-laki yang dibawa orang tuanya sangat jauh dari criteria suami idamannya. Akhirnya dengan berat hati ia menerima laki-laki itu sebagai suaminya.

Pilihan yang paling cocok saat 'penantian' bagi akhwat adalah sikap proaktif. Bersikap proaktif bukan berarti pasrah tanpa usaha sama sekali, namun bukan pula bertindak tanpa perhitungan dan pertimbangan. Sikap proaktif ituberarti berdoa sekaligus melakukan upaya yang dibenarkan agama untuk merealisasikan doa tersebut.

Ada sebagian akhwat yang berpendapat, " kalau memang jodoh merupakan bagian dari takdir Allah, mengapa kita harus mengejarnya? Bila sudah takdir pasti akan datang sendiri?" saya kira ini lah kekeliruan logika sebagian manusia. Allah telah menetapkan takdir bagi kita para hambaNya. Yang mengetahui takdir hanya Allah semata, kita tidak tahu bagaimana nasib kita besok. Ketika kita tidak tahu takdir yang akan kita terima, sedang kita diperintah untuk melakukan kebaikan maka kita sebagai mukmin harus memilih jenis perbuatan yang baik.

Kita sebagai manusia dianugerahi akal dan pikiran. Disamping itu kita juga diberi hak ikhtiar (berusaha). Kita juga diberi pedoman berupa Al Qur'an dan As Sunnah, sehingga bisa membedakan kebaikan dan keburukan. Dengan begitu kita justru dituntut untuk berusaha dan beramal. Wallahu a'lam bishshowab

---------
(dikutip dari mencari cinta, didik H-Yogya 2004)

Bila Aku Jatuh Cinta

Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau

Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh

Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu

Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu

Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu

Amin !

Menikah adalah Keajaiban

Saya selalu mengatakan bahwa menikah adalah hal yang sangat kodrati. Dalam bahasa saya, menikah tidak dapat dimatematiskan. Jika suatu saat ada orang yang mengatakan, �secara materi saya belum siap,� saya akan selalu mengejar dengan pertanyaan yang lain, �berapa standar kelayakan materi seseorang untuk menikah?�

Tak ada. Sebenarnya tak ada. Jika kesiapan menikah diukur dengan materi, maka betapa ruginya orang-orang yang papa. Begitu juga dengan kesiapan-kesiapan lain yang bisa diteorikan seperti kesiapan emosi, intelektual, wawasan dan sebagainya. Selalu tak bisa dimatematiskan. Itulah sebabnya saya mengatakan bahwa menikah adalah sesuatu yang sangat kodrati.

Bukan dalam arti saya menyalahkan teori-teori kesiapan menikah yang telah dibahas dan dirumuskan oleh para ustadz. Tentu saja semua itu perlu sebagai wacana memasuki sebuah dunia ajaib bernama keluarga itu.

Sebagai contoh saja, banyak pemuda berpenghasilan tinggi, namun belum juga merasa siap untuk menikah. Belum cukup, lah... itu alasan yang paling mudah dijumpai. Dengan gaji sekarang saja saya hanya bisa hidup pas-pasan. Bagaimana kalau ada anak dan istri? Oya, saya juga belum punya rumah....

O-o... Saudaraku, kalau kau menunggu gajimu cukup, maka kau tak akan pernah menikah. Bisa jadi besok Allah menghendaki gajimu naik tiga kali lipat. Tapi percayalah, pada saat yang bersamaan, tingkat kebutuhanmu juga akan naik... bahkan lebih tiga kali lipat. Saat seseorang tak memiliki banyak uang, ia tak berpikir pakaian berharga tertentu, televisi, laptop... atau mungkin hp merk mutakhir. Saat tak memiliki banyak uang, makan mungkin cukup dengan menu sederhana yang mudah ditemui di warung-warung pinggir jalan. Tapi bisakah demikian saat Anda memiliki uang? Tidak akan. Selalu saja ada keinginan yang bertambah, lajunya lebih kencang dari pertambahan kemampuan materi. Artinya, manusia tidak akan ada yang tercukupi materinya.

Menikah adalah sebuah elemen kodrati sebagaimana rezeki dan juga ajal. Tak akan salah dan terlambat sampai kepada setiap orang. Tak akan bisa dimajukan ataupun ditahan. Selalu tepat sesuai dengan apa yang telah tersurat pada awal penciptaan anak Adam.

Menikah adalah salah satu cara membuka pintu rezeki, itu yang pernah saya baca di sebuah buku. Ada pula sabda Rasulullah, �Menikahlah maka kau akan menjadi kaya.� Mungkin secara logika akan sangat sulit dibuktikan statemen-statemen tersebut. Taruhlah, pertanyaan paling rewel dari makhluk bernama manusia, �Bagaimana mungkin saya akan menjadi kaya sedangkan saya harus menanggung biaya hidup istri dan anak? Dalam beberapa hal yang berkaitan dengan interaksi sosial juga tidak bisa lagi saya sikapi dengan simpel. Contoh saja, kalau ada tetangga atau teman yang hajatan, menikah dan sebagainya, saya tentu saja tidak bisa lagi menutup mata dan menyikapinya dengan konsep-konsep idealis. Saya harus kompromi dengan tradisi; hadir, nyumbang... yang ini berarti menambah besar pos pengeluaran. Semua itu tak perlu menjadi beban saya pada saat saya belum berkeluarga.�

Saat saya dihadapkan pertanyaan �menikah� pertama kali dalam hidup saya, saya sempat maju mundur dan gamang dengan wacana-wacana semacam ini. Lama sekali saya menemukan keyakinan -�belum jawaban, apalagi bukti�- bahwa seorang saya hanyalah menjadi perantara Allah memberi rezeki kepada makhluk-Nya yang ditakdirkan menjadi istri atau anak-anak saya.

Harusnya memang demikian. Itulah keajaiban yang kesekian dari sebuah pernikahan. Saya sendiri menikah pada tahun 1999, saat umur saya dua puluh tahun. Saat itu saya bekerja sebagai buruh di sebuah perusahaan bakery tradisional. Tentu saja, saya sudah menulis saat itu kendati interval pemuatan di majalah sangat longgar. Kadang-kadang sebulan muncul satu tulisan, itu pun kadang dua bulan baru honornya dikirim.

Dengarkan...! Dengarkan baik-baik bagian cerita saya ini.

Sebulan setelah saya menikah, tiga cerpen saya sekaligus dimuat di tiga media yang berbeda. Beberapa bulan berikutnya hampir selalu demikian, cerpen-cerpen saya semakin sering menghiasi media massa. Interval pemuatan cerpen tersebut semakin merapat. Saat anak saya lahir, pada pekan yang sama, ada pemberitahuan dari sebuah majalah remaja bahwa mulai bulan tersebut, naskah fiksi saya dimuat secara berseri. Padahal, media tersebut terbit dua kali dalam sebulan. Ini berarti, dalam sebulan sudah jelas ada dua cerpen yang terbit dan itu berarti dua kali saya menerima honor. Ini baru serialnya. Belum dengan cerpen-cerpen yang juga secara rutin saya kirim di luar serial.

Tunggu... semua itu belum berhenti. Saat anak saya semakin besar dan semakin banyak pernak-pernik yang harus saya penuhi untuknya, lagi-lagi ada keajaiban itu. Satu per satu buku saya diterbitkan. Royalti pun mulai saya terima dalam jumlah yang... hoh-hah...! Subhanallah...!

Entah, keajaiban apa lagi yang akan saya temui kemudian. Yang jelas, saat ini saya harus tetap berusaha meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya hanyalah perantara rezeki bagi anak dan istri saya... juga �mungkin �orang lain. Dengan begitu, mudah-mudahan saya bisa melepaskan hak-hak tersebut yang melekat pada uang gaji ataupun royalti yang saya terima.

Ya Allah... mampukan saya.

Sakti Wibowo

Cikutra, Bandung.
Selasa, 28 Januari 2003, 8:48:44
sakti@syaamil.co.id

Friday, March 9, 2007

Doa Untuk Kekasih

Allah yang Maha Pemurah...

Terima kasih Engkau telah menciptakan dia
dan mempertemukan saya dengannya.

Terima kasih untuk saat - saat indah
yang dapat kami nikmati bersama.

Terima kasih untuk setiap pertemuan
yang dapat kami lalui bersama.

Saya datang bersujud dihadapanMU...

Sucikan hati saya ya Allah, sehingga dapat melaksanakan kehendak dan rencanaMU dalam hidup saya.

Ya Allah, jika saya bukan pemilik tulang rusuknya, janganlah biarkan saya merindukan kehadirannya...
janganlah biarkan saya, melabuhkan hati saya dihatinya..
kikislah pesonanya dari pelupuk mata saya dan jauhkan dia dari relung hati saya...

Gantilah damba kerinduan dan cinta yang bersemayam didada ini dengan kasih dari dan padaMU yang tulus, murni...
dan tolonglah saya agar dapat mengasihinya sebagai sahabat.

Tetapi jika Engkau ciptakan dia untuk saya...
ya Allah tolong satukan hati kami...
bantulah saya untuk mencintai, mengerti dan menerima dia seutuhnya...
berikan saya kesabaran, ketekunan dan kesungguhan untuk memenangkan hatinya...

Ridhoi dia, agar dia juga mencintai, mengerti dan mau menerima saya dengan segala kelebihan dan kekurangan saya
sebagaimana telah Engkau ciptakan...

Yakinkanlah dia bahwa saya sungguh - sungguh mencintai dan rela membagi suka dan duka saya dengan dia...

Ya Allah Maha Pengasih, dengarkanlah doa saya ini...
lepaskanlah saya dari keraguan ini menurut kasih dan kehendakMU...

Allah yang Maha kekal, saya mengerti bahwa Engkau senantiasa memberikan yang terbaik untuk saya...
luka dan keraguan yang saya alami, pasti ada hikmahnya.

Pergumulan ini mengajarkan saya untuk hidup makin dekat kepadaMU untuk lebih peka terhadap suaraMU yang membimbing saya menuju terangMU...

Ajarkan saya untuk tetap setia dan sabar menanti tibanya waktu yang telah Engkau tentukan....

Jadikanlah kehendakMU dan bukan kehendak saya yang menjadi dalam setiap bagian hidup saya...

Ya Allah, semoga Engkau mendengarkan dan mengabulkan permohonanku.

Amien


Our Wedding

OUR WEDDING

Menikah
Akhmad Sekhu & Eni Jupitasari
Akad Nikah
Jum'at,06 April 2007
Pukul 08.00 WIB ~ Selesai
Masjid Al Ishlah
Perum Bukit Tiara_Cikupa_Tangerang





Sunday, March 4, 2007

Mata Kuliah dari Seorang Pemulung

Oleh Sus Woyo


Hujan rintik-rintik tiba-tiba mengguyur kawasan kampus di kota saya. Saya bergegas masuk ke sebuah warung bubur langganan para mahasiswa di depan fakultas teknik sebuah PTN. Di sudut warung tersebut, seorang lelaki berkumis sedang begitu santai menikmati segelas kopi dan sebatang rokok kretek. Saya duduk tak begitu jauh darinya.

Ketika hujan mulai lebat, laki-laki itu memarkir sepeda untanya lebih dekat ke warung tersebut, agar tumpukan kardus dan kantong semen tidak basah. Setelah sebelumnya dengan amat sopan dia meminta izin kepada si pemilik warung bubur.

Ia memperkenalkan dirinya kepada saya sebagai seorang pemulung, dan di samping menjadi tukang pemungut barang-barang bekas, ia kadang juga memanfaatkan sedikit keahliannya sebagai seorang pemijat. Ia bercerita panjang lebar tentang sejarah hidupnya.

“Mas, ” katanya kepada saya. “Beberapa waktu lalu, saya ini ditawari suatu pekerjaan dengan gaji sehari empat ratus ribu rupiah, diberi fasilitas motor baru, handphone sekaligus pulsanya sekalian. Tapi saya menolak pekerjaan itu.”

Saya sempat terbelalak mendengar penuturannya. Dengan perasaan yang masih heran, saya mencoba bertanya lagi. “Pekerjaan seperti apakah itu pak, kok begitu menggiurkan dan bapak sendiri menolaknya.”

“Kurir sabu-sabu, ” jawabnya bersemangat. “Lebih baik usus saya nempel di perut karena lapar daripada harus menjadi bagian dari pekerjaan haram. Saya lebih mulia menjadi seorang pemungut kardus dan kantong semen daripada ke empat anak saya makan barang tidak halal.”

Saya makin serius mendengarkan kalimat-kalimat indah yang meluncur dari sosok yang amat sederhana ini. Ia juga bercerita panjang lebar tentang situasi dan kondisi kontemporer. Tak ketinggalan ia juga bicara soal musibah yang seolah tak kan pernah berhenti mengguncang negeri ini.

Sekali-sekali terdengar juga ia mengkritisi tingkah polah manusia pada umumnya. Tak hanya pemimpin, dan kaum cerdik pandai yang ia kritisi, tapi rakyat jelata seperti kamipun tak lepas dari kritikannya.

Ia tampak menyesal sekali ketika melihat di ibukota negara, -yang kata dia- adalah tempat berkumpulnya orang-orang pinter, orang-orang yang gelar akademiknya sampai satu meter, tapi kenapa dalam menangani flu burung saja, mesti unggasnya yang dibantai?

Ia mengajak kami untuk mempelajari hadits Nabi tentang lalat yang beracun. “Ketika lalat itu masuk ke dalam minuman, dan hanya satu sayapnya saja yang tenggelam, maka Nabi memerintahkan agar meneggelamkan sayap yang satunya lagi. Sebab di sayap yang satu itu ada penawar racun.” Ujarnya bersemangat.

“Barangkali, dalam tubuh unggas itu justru ada penawar untuk flu burung.” Tambahnya, sambil menghimbau para pakar kesehatan dan peternakan untuk lebih intensif lagi meneliti tentang hal ini.

“Lantas, ” tanya saya. “Menurut bapak, solusi apakah yang paling tepat untuk mengatasi negri yang makin hari makin parah ini.”

“Tak ada lain Mas, kecuali kita harus cepat-cepat bertaubat kepada-Nya. Kita harus membuka kembali kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada kita.”

Saya hanya tersenyum sambil melihat wajah bersih laki-laki yang seolah begitu nikmat menjalani hidup ini, walaupun hanya berkendaraan sepeda unta yang tua dan pekerjaannya hanya menjadi tukang pungut kardus dan kantong semen.

Saya, pemilik warung bubur yang asli Kuningan, dan seorang mahasiswa yang sedang melahap bubur, terangguk-angguk diberi mata kuliah dari seorang pemulung sederhana itu. Saya sebenarnya ingin lebih lama lagi berbincang dengan dia, sayang waktu makin merambat sore. Saya makin rindu saja dengan sosok sederhana yang ternyata sarat ilmu kehidupan itu.

***

Purwokerto, Feb 2007

Doakan Pernikahan Kami Hingga ke Sorga

Oleh Andi Sri Suriati Amal

Orangnya sederhana, polos, baik hati dan terkesan agak kaku. Begitulah kira-kira gambaran yang saya tangkap tentangnya. Tapi di balik kesederhanaan dan kepolosannya saya menemukan sesuatu yang -menurutku- istimewa. Jalan pikirannya yang kadang-kadang susah dimengerti oleh banyak orang. Belum lagi sikap keukeuhnya yang bikin sebagian orang malas meladeninya lama-lama.

Dia berbeda dari kebanyakan orang yang saya kenal. Tapi saya senang mendengar semua ceritanya. Justru dari situlah saya tahu dia memiliki keistimewaan.

Dari kisahnya saya tahu betapa kuat keinginannya mewujudkan rumah tangga sakinah, mawaddah wa rahmah. Tapi ini tidak mudah baginya, sebab pendidikan formalnya tidak tinggi. Pengetahuan agamanya pun pas-pasan. Sementara suaminya seorang muallaf, dari lain bangsa dan negara pula. Suami masih belum bisa meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama, keluhnya. Meski tidak sampai membuatnya putus asa, hal itu cukup membuatnya terganggu, kadang bahkan menyebabkan konflik.

Susah mengajak suaminya untuk lebih jauh mendalami agama tidak menyusutkan semangatnya untuk terus belajar. Dia bahkan tidak pernah lelah pergi menemani anaknya belajar mengaji dan fardhu ain. Seringkali bahkan menunggui selama berjam-jam. Walhasil, anak lelakinya yang baru berumur 7 tahun itupun sudah bisa membaca Qur'an dan menghafal beberapa surah pendek. Bahkan sudah hafal beberapa hadis dan juga tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu.

Anaknya itu memang berbeda dengan banyak anak yang lahir di negeri yang serba bebas ini. Biasanya anak-anak di sini dibebaskan memilih sendiri pelajaran apa yang mereka suka sebagai tambahan di samping pelajaran sekolah. Kebanyakan mereka tidak sempat lagi belajar mengaji karena waktunya sudah penuh dengan les-les lain seperti main piano, ballet atau matematika.

Saya ikut terharu ketika dengan senangnya dia bercerita bagaimana anaknya itu mengajak bapaknya ikut sholat berjamaah bersama mereka. Meskipun susah pada awalnya, tapi dia lumayan lega karena suaminya mau duduk bersama dan berdiam diri menyaksikan mereka sholat. Alasannya, sholat itu cukup dengan mengingat Allah saja. Tentu saja hal ini membuat si anak tidak diam saja. Anak kecil itupun mencoba mendebat bapaknya, yang tentu saja berakhir si kecil ngambek dan kesal sama bapaknya.

Dengan kesal dia bilang ke mamanya, "Ah, sudahlah Ma. Tak usah pedulilah dengan bapak itu." Dijawabnya, "Sabar Nak, tidak boleh begitu. Kita harus berusaha terus agar bapak mau sholat dan sebagainya. Kamu sayang kan sama bapak? Coba bayangkan, jika kamu kelak masuk surga terus melihat bapak kamu dilempar ke neraka. Sedih gak kamu? Kamu pasti menangis. Karena itu jangan pernah menyerah. Kita usahakan dan doakan terus agar bapak terbuka hatinya dan mendapat hidayah."

Tidak jarang juga percekcokan terjadi antara dirinya dan suaminya jika kesabarannya hilang. Bahkan pernah sampai putus asa dan timbul keinginan untuk berpisah dari suaminya. Tapi ketika disadarinya bahwa suaminya itu adalah anugerah sekaligus tanggungjawab baginya, diurungkannya niatnya. Batapa tidak, suaminya telah bersedia menikahinya dan masuk Islam karenanya adalah sesuatu yang sangat berharga baginya. Meskipun tidak sedikit dari keluarga besarnya yang menentang pernikahan itu. Mereka kebanyakan khawatir kalau dirinya yang akan 'terbawa' oleh suaminya.

Bercerai bukanlah hal yang sulit di negeri ini. Asal ada alasan, si isteri bisa saja dengan mudah menggugat cerai suaminya. Dan meskipun sudah bercerai, isteri tidak perlu khawatir tentang biaya hidupnya kelak. Karena bila bercerai menurut hukum di Jerman, suami tetap berkewajiban untuk membiayai isteri begitu juga anak-anaknya hingga mereka berumur 18 tahun. Tapi saran dari sebagian temannya agar bercerai saja tidak dipedulikannya.

Suatu waktu dengan suara lirih dia mengatakan padaku, "Saya menyayangi suami saya. Saya ingin pernikahan kami tidak hanya di dunia saja. Saya berharap terus bersamanya hingga ke syurga kelak. Mohon doanya ya..."

Mungkinkah segala yang diimpikannya terkabul? Sulit baginya membayangkannya. Tapi dia percaya bahwa Allah mencintai dirinya dan keluarganya. Kehamilan keduanya setelah kelahiran anak pertamanya tujuh tahun lalu menurutnya adalah bukti kasih sayang Allah kepada keluarganya. Dan sebagai penyemangat baginya untuk terus bersyukur dan berjuang di jalan-Nya.

Frankfurt, 9 Februari 2007

Doa Seorang Calon Pengantin

Oleh Ekaerawati

Kalaulah ada kisah di zaman dahulu bahwa ada satu orang di antara tiga orang yang bisa bertawasul dengan amalannya untuk bisa membuka batu yang menghimpit pintu gua, maka aku tertarik dengan tawasulnya. Demiuntuk menghindari zina dengan perempuan yang diberinya uang dengan tebusan tubuhnya walaupun ia mudah melakukannya.

Kalaulah ada kisah tentang pernikahan dan syarat maharnya, maka kisah Ummu Sulaim yang merelakan keIslaman Abu Tholhah adalah sungguh mengharukan. Dan juga kesederhanaan Ali ra menikahi Fathimah dengan baju besinya.

Saksikanlah ya Robbi, aku pun ingin menjadi Ummu Sulim dan Fathimah. Keduanya tidak mensyaratkan emas dan berlian sebagai penebusan kehalalan calon suami menyentuh tubuhnya.

Cukup dengan hafalan surat Ar-Rahman dan tafsir Ibnu kastir. Itupun masih dengan keringanan, tafsirnya boleh dicicil setelah kami menikah nanti.

Saksikanlah ya Robbi…aku pun ingin mencontoh sang lelaki yang terjebak di gua tadi. Aku pun ingin bertawasul dengan upayaku untuk menghindari zina. Walapun peluang ke sana sangat mungkin.

Banyak lelaki yang mengincarku sejak wajahku memancarkan pesonanya di bangku SMA. Tapi aku takut untuk pacaran. Aku bertekad bahwa cinta yang satu itu hanya kuberikan pada lelaki yang halal untuk memuaskan libidoku dan menjadi salah satu pembuka jalan menggapai surga-Mu

Maka saat kuputuskan setelah hari-hari berkonsultasi dalam sujud-sujud istikharah 3 bulan yang lalu untuk mengucapkan “ya”, aku berusaha untuk tidak mendapat murka-Mu, dengan berlama-lama dalam waktu atau menunda-nundanya, sehingga terjebak dalam rimba cinta tanpa status dan fitnah dunia.

Pun kuberusaha menangkis serangan kata-kata romantisnya untuk ditunda hingga saat dia menucapkan “qobiltu nikahaha…” (kuterima nikahnya).

Maaf ya Allah, jika hari ini aku harus banjir air mata, saat aku baru bisa menjawab pertanyaan orangtuaku, “Kamu punya uang tho untuk menikah?”. “Ya insya Allah diusahakan dan mohon waktunya."

Walaupun aku tahu sekarang hanya beberapa lembar puluhan ribu hasil sisa kas bon di tempat kerjaku yang kupersiapkan untuk bekal sisa bulan ini. “Pokoknya minimal 6-7 juta harus ada lho, ya", begitu suara ibu di sebrang memberi batas minimal dana yang harus kusediakan.

Ya…Rozak aku yakin Engkau Maha kaya untuk tidak sampai membuatku merepotkan kedua orangtuaku, membebani saudara-saudaraku atau mengemis pada sesuatu selain-Mu.

Aku masih percaya ya Allah…kalau pernikahan ini juga sebagai upaya menolong agama-Mu, maka hamba yakin engkau mau menolongku. Hamba masih yakin dengan hadist Qudsi yang berbunyi “Bahwa Allah malu jika tidak mengabulkan permintaan hamba-Nya yang menengadahkan tangan di sepertiga malam terakhir”.

Aku tidak ingin berujung pada keputusasaan.

Ya Rahman..ya Rahim…Jika memang pernikahan ini akan semakin membuat Engkau meridhaiku, maka mudahkan dan lancarkan. Dan satukanlah kami dam jalinan kasih yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Amien.

Redaksi menerima kiriman artikel untuk rubrik Oase Iman.

SMS Penguat Hati

Oleh Hafizh Kharisma

“Allah tidak akan menguji seseorang diluar batas kemampuannya. Allah Maha Mengetahui yang terbaik bagi umatNya. Kitalah yang harus bisa ambil hikmahnya, agar tak sia-sia waktu yang kita habiskan tiap harinya. Cinta ayah pada mama dan anak-anak akan menguatkan ayah! Sun.”

Barisan kalimat sms itu membuat hatiku bergelenyar, rasa rindu kian menusuk-nusuk menuntun tetesan air mata jatuh dipipi. Tak peduli aku ini lelaki, tak peduli seharusnya aku lebih kuat, kenyataannya aku merasa begitu lemah, rasanya tak sanggup berpisah jauh dan lama dari anak-isteri.

Tiap hari hanya menghitung waktu, 3 bulan sudah aku di sini, Soroako, kota kecil dikelilingi danau. Sendiri. Anak dan isteriku tinggal di Bandung. Isteriku bekerja dan masih ikatan dinas sehingga ia tak bisa meninggalkan pekerjaannya untuk ikut bergabung denganku di sini. Mutasi kali ini terasa berat sekali, entahlah, mungkin karena memang sejak awal aku berharap hanya mutasi di pulau Jawa saja brangkali.

Kusadari bahwa sms-ku pada isteriku tiap hari hanya berisikan keluhan atas ketidaknyamananku, kesepianku dan kejenuhan yang terasa membebaniku. Dan isteriku tak pernah melewatkan satu pun sms-ku tanpa balasannya. Dengan kalimat yang sama, “semoga ayah kuat dan sabar” selalu kalimat itu dan dengan sedikit kesal selalu kujawab dengan kalimat datar “ya mang itu kan yang harus ayah lakukan, sabar.”

Dan setelah itu biasanya isteriku tak membalas, seakan menunggu waktu yang tepat agar itu terlupakan dan tidak membuatku emosi. Dia sangat mengenal seluruh kebiasaanku, kadang bahkan bisa menerka rencana tindakanku.

Pernah suatu waktu aku kembali mengeluh, menyatakan ingin segera pulang dan sepintas menyebutkan angan2ku bahwa aku ada keinginan untuk keluar kerja saja dan mencari kerja baru di Bandung agar kami bisa selalu bersama. Dia malah mempertanyakan kesiapanku bila nanti ternyata malah jadi pengangguran mengingat cari kerja saat ini tidaklah mudah dan untuk usiaku yang telah menginjak angka 37 tentulah sangat sulit.

Saat itu aku merasa dia tak lagi mementingkan kebersamaan, dia pasti ketakutan aku tidak memberinya nafkah dan mungkin juga malu bila punya suami pengangguran. Tapi nyatanya dia langsung menelponku dan dengan suaranya yang kekanakan dia berkata:

Ayah jangan salah paham dulu ya, mama ga takut loh jatuh miskin bila itu kehendak Allah. Mama juga gak akan gengsi punya suami pengangguran bila hal itu memang yang terbaik buat keluarga kita. Mama cuma takut ayah salah ambil keputusan dan menyesalinya kemudian. Mama cuma kuatir ayah seneng aja tinggal bareng lagi ama kita untuk 2-3 bulan dan sementara itu kalo ayah masih nganggur ato belum dapet kerja ntar ayah jadi rendah diri ato meributkan mama yang kerja dari pagi dan pulang sore setiap harinya. Mama siap ko apapun keputusan ayah, selama ayah siap dengan segala resikonya”.

Duh, dia selalu tahu bagaimana menghadapi situasi, atas hal itu aku memujanya.

Dan hari ini, saat hari libur seperti ini, kesepian dan kejenuhan terasa berlipat-lipat lebih daripada hari-hari kerja. Lagi-lagi tanpa kusadari aku kembali mengirim sms yang menceritakan kesepian, kebosanan dan kepasrahan atas kondisi yang ada. Dan seperti itulah jawabannya. Namun kali ini terasa beda di hatiku, dipikiranku. Mungkin benar seperti katanya bahwa ini pastilah yang terbaik bagiku, bagi kami karena Allah-lah yang telah menentukan situasi ini.

Dan kucoba yakini hatiku demi rasa cinta yang ada bahwa perjalanan ini hanyalah sebuah episode saja yang nantinya akan berakhir bahagia. Kesabaran isteriku seharusnya menjadikanku lebih sabar lagi dan kekuatannya tentulah telah membuatku lebih kuat lagi selama ini.. Aku tak mau lagi menyia-nyiakan waktu yang tersisa di sini hanya untuk termenung. Pastilah ujian ini akan ada akhirnya dan kusiapkan diriku untuk jadi lebih baik lagi manakala ada saatnya bagi kami untuk bertemu dan bersatu kembali.

Menjelang sore, 19 Feb 2007 Alhamdulillah, kurindukan engkau karna Allah yang memberikanmu padaku. Semoga Allah senantiasa memberi kita kekuatan dan kesabaran.

Tuesday, February 20, 2007

hancurkan israel...!












Silahkan Klik Disini...!



Mesin Penghasil Uang





Mesin Penghasil Uang






Mesin Penghasil Uang






Mesin Penghasil Uang

Friday, February 16, 2007

Energi Pelukan

Oleh Azimah Rahayu

Suatu hari di gua Hira, Muhammad SAW tengah ber'uzlah, beribadah kepada Rabbnya. Telah sekian hari ia lalui dalam rintihan, dalam doa, dalam puja dan harap pada Dia Yang Menciptanya. Tiba-tiba muncullah sesosok makhluk dalam ujud sesosok laki-laki. “Iqra!” katanya.

Muhammad SAW menjawab, “Aku tidak dapat membaca!” Laki-laki itu merengkuh Muhammad ke dalam pelukannya, kemudian mengulang kembali perintah “Iqra!” Muhammad memberikan jawaban yang sama dan peristiwa serupa pun terulang hingga tiga kali. Setelah itu, Muhammad dapat membaca kata-kata yang diajarkan lelaki itu. Di kemudian hari, kata-kata itu menjadi wahyu pertama yang yang diturunkan Allah kepada Muhammad melalui Jibril, sang makhluk bersosok laki-laki yang menemui Muhammad di gua Hira.

Sepulang dari gua Hira, Muhammad mencari Khadijah isterinya dan berkata, “Selimuti aku, selimuti aku!”. Ia gemetar ketakutan, dan saat itu, yang paling diinginkannya hanya satu, kehangatan, ketenangan dan kepercayaan dari orang yang dicintainya. Belahan jiwanya. Isterinya. Maka Khadijah pun menyelimutinya, memeluknya dan mendengarkan curahan hatinya. Kemudian ia menenangkannya dan meyakinkannya bahwa apa yang dialami Muhammad bukanlah sesuatu yang menakutkan, namun amanah yang akan sanggup ia jalankan.

***

Suatu hari dalam sebuah pelatihan manajemen kepribadian. Para instruktur yang jugapara psikolog tengah mengajarkan berbagai terapi penyembuhan permasalahan kejiwaan. Dari semua terapi yang diberikan, selalu diakhiri dengan pelukan, baik antar sesama peserta maupun oleh instrukturnya.

Namun demikian, mereka mempersilakan peserta yang tidak bersedia melakukan pelukan dengan lawan jenis untuk memilih partner pelukannya dengan yang sejenis. Yang penting tetap berupa terapi pelukan. Menurut mereka, pelukan adalah sebuah terapi paling mujarab hampir dari semua penyakit kejiwaan dan emosi. Pelukan akan memberikan perasaan nyaman dan aman bagi pelakunya.

Pelukan akan menyalurkan energi ketenangan dan kedamaian dari yang memeluk kepada yang dipeluk. Pelukan akan mengendorkan urat syaraf yang tegang. Saya yang saat itu menjadi salah satu peserta, memilih menggunakan pilihan kedua ini. Pelatihan itu, di kemudian hari memberikan perubahan besar dalam stabilitas emosi dan kejiwaan saya.

***

Apa yang saya inginkan pertama kali ketika saya sedang bersedih, marah atau apapun yang secara emosi mengguncang perasaan saya? Dipeluk suami. Pelukan itu akan menenangkan saya, membuat saya nyaman dan tenang kembali. Apa yang kami berdua lakukan setelah berantem? Saling memeluk.

Pelukan itu akan menurunkan tensi emosi di antara kami. Pelukan itu akan merekatkan kembali ikatan cinta di antara kami setelah luka dan kecewa yang sempat tertoreh. Pelukan itu, akan membuat kehidupan rumah tangga kami menjadi makin mesra. Segala sedih, segala marah, segala kecewa, dan segala beban hilang oleh kehangatan pelukan.

Pelukan itu, kemudian tidak hanya berlaku ketika saya terguncang secara emosi. Setelah setahun lebih kami menikah, pelukan telah menjadi satu kebiasaan dalam hari-hari kami. Hal pertama yang saya lakukan ketika tiba di rumah sepulang dari kantor atau dari bepergian adalah memeluk suami. Memeluknya erat-erat. Itu saja. Tak Lebih. Hal pertama yang saya inginkan ketika saya bangun dari tidur adalah memeluk dan dipeluk suami saya. Memeluknya kuat-kuat. Itu saja.

Bukan yang lainnya. Jika kami bangun pada jeda waktu yang tak sama, maka ‘utang’ kebiasaan itu dilakukan setelah shalat lail atau shalat subuh. Jika kami tidur di kamar yang berbeda, biasanya jelang subuh atau habis shubuh, salah satu dari kami akan menyusul yang lainnya. Hanya untuk satu hal saja: memeluk dan dipeluk.

Saat malam menjelang tidur, kami terbiasa tiduran dan saling memeluk, berlama-lama sambil berbincang tentang aktifitas kami seharian. Ada kata-kata yang minimal tiga kali sehari saya ucapkan kepada suami saya, ”I Love U” dan “Minta peluk!” Rasanya ada yang kurang jika kekurangan pelukan dalam sehari. Pelukan memberiku rasa aman dan nyaman. Pelukan, saya rasakan memberikan kehangatan yang tak tergantikan oleh apapun.

****

Berdasarkan hasil penelitian, kita butuh empat kali pelukan per hari untuk bertahan hidup, delapan supaya tetap sehat, dan dua belas kali untuk pertumbuhan. Jika ingin terus tumbuh, kita butuh dua belas pelukan per hari. Pelukan berkhasiat menyehatkan tubuh. Pelukan merangsang kekebalan tubuh kita. Pelukan membuat kita merasa istimewa. Pelukan memanjakan sifat kekanak-kanakan yang ada dalam diri kita. Pelukan membuat kita lebih merasa akrab dengan keluarga dan teman-teman.

Riset membuktikan bahwa pelukan dapat menyembuhkan masalah fisik dan emosional yang dihadapi manusia di zaman serba stainless steel dan wireless ini. Bukan hanya itu saja, para ahli mengemukakan bahwa pelukan bisa membuat kita panjang umur, melindungi dari penyakit, mengatasi stress dan depresi, mempererat hubungan keluarga dan membantu tidur nyenyak. (The Aladdin Factor, Jack Canfield & Mark Victor Hansen.”)

Helen Colton, penulis buku The Joy of Touching juga menemukan bahwa ketika seseorang disentuh, hemoglobin dalam darah meningkat hingga suplai oksigen ke jantung dan otak lebih lancar, badan menjadi lebih sehat dan mempercepat proses penyembuhan. Maka bisa dikatakan bahwa pelukan bisa menyembuhkan penyakit “hati” dan merangsang hasrat hidup seseorang.

Berdasarkan hasil penelitian yang dikeluarkan oleh jurnal Psychosomatic Medicine, pelukan hangat dapat melepaskan oxytocin, hormon yang berhubungan dengan perasaan cinta dan kedamaian. Hormon tersebut akan menekan hormon penyebab stres yang awalnya mendekam di tubuh.

Hasil hasil penelitian tersebut, memberikan keterangan ilmiah atas kecenderungan dalam diri setiap manusia untuk mendapatkan ketenangan dan kehangatan melalui pelukan. Penelitan tersebut memberikan fakta ilmiah atas besarnya energi yang dapat disalurkan melalui pelukan.

Sayangnya, banyak dari kita dibesarkan dalam rumah yang di dalamnya pelukan adalah sesuatu yang tidak lazim, dan kita mungkin merasa tidak nyaman minta dipeluk dan memeluk. Kita mungkin pernah digoda sebagai “si anak manja” jika sering memeluk atau dipeluk Ayah, Ibu atau saudara kandung kita. Dan jadilah kita atau remaja-remaja kita saat ini, tumbuh dengan kekurangan energi pelukan.

Bisa jadi, kekurangan energi pelukan ini adalah termasuk salah satu faktor yang menyebabkan maraknya kasus ketidakstabilan emosi manusia seperti yang terjadi belakangan ini: tingginya angka kriminalitas dan narkoba pada golongan anak dan remaja, kesurupan di berbagai sekolah dan sebagainya.

Dan bisa jadi, sesungguhnya solusi untuk mengurangi berbagai permasalahan itu sebenarnya sederhana saja: Pemberian pelukan kasih sayang yang banyak kepada anak-anak dari orang tuanya. Bukankah Rasulullah sangat gemar memeluk isteri, anak, cucu, dan bahkan anak-anak kecil di lingkungannya dengan pelukan kasih sayang? Bahkan pernah ada satu kisah ketika Rasulullah mencium dan memeluk cucunya, seorang sahabat menyatakan bahwa hingga ia punya 10 orang anak, tak satu pun yang pernah ia curahi dengan peluk cium.

Rasulullah saat itu berkomentar, “Sungguh orang yang tidak mau menyayang (sesamanya), maka dia tidak akan disayang.” (riwayat Al-Bukhari)

Rasanya, sudah sangat cukup alasan bagi saya, untuk mencurahi anak saya nanti dengan pelukan kasih sayang. Insya Allah!

Meniti Hidayah

Oleh Indah Prihanande

Rasa asing menghampiri ketika adik saya mengenakan jilbab untuk pertama kali. Saat itu saya menganggap jilbab adalah bukan pakaian modern. Jilbab hanya dikhususkan untuk guru agama, orang yang bersekolah di madrasah dan sejenisnya yang berbau agama. Tidak cukup sampai di situ, orang yang mengenakan jilbab saya anggap kuno dan tradisional.


Kesan ‘kuno’ itu semakin meyakinkan saya ketika adik saya mengenakan jilbab dan baju yang serba lebar plus di dalamnya dilapisi dengan celana panjang. Kaos kaki menjadi pelengkap yang tidak ketinggalan.

***

Bersamaan dengan itu, adik saya juga mengenakan jilbab mungil kepada putri saya yang masih bayi. Perasaan yang muncul di hati saya ketika itu adalah perasaan bangga. Bangga karena putri saya terlihat cantik, lucu, imut–imut dan menggemaskan. Tidak ada terbersit sedikitpun tentang sebuah makna berdasarkan keimanan. Saya hanya melihat indah secara fisik, itu saja.

Entah kenapa, tanpa saya sangka puteri saya itu begitu ‘taat’ mengenakan jilbabnya. Dia akan segera mengambil jilbabnya ketika saya mengajaknya keluar rumah. Tidak akan pergi ketika jilbab tersebut belum ditemukan.

Suatu waktu di dalam angkot yang pengap dan panas, karena kasihan saya ingin membuka jilbabnya tersebut, tapi dia menolak. Dia tidak menangis atau merengek, sementara itu dahinya penuh dengan titik keringat.

Kemudian, entah bermula dari mana, perlahan tapi pasti perasaan malu mulai mulai mengusik saya. Saya mulai merasa jengah ketika menggendong bayi cantik berjilbab rapi, sementara saya sebagai ibu-nya mengenakan celana jeans dan rambut yang terbuka ke mana–mana. Sungguh kontras.

Duh, saya merasa tertinggal dan ingin segera menuntaskan ketetertinggalan itu. Tapi saya tidak ingin mengenakan jilbab lebar seperti adik saya, saya ingin jilbab yang lebih pendek dan lebih bermodel. Jilbab pertama yang saya kenakan adalah berwarna cerah, bagian depannya saya lilitkan kebelakang leher, sehingga tidak terlalu menjuntai. Terlihat rapi dan lebih chic.

Kemudian, entah apa juga yang menjadi penyebabnya, lama kelamaan saya merasa jengah ketika mengenakan jilbab pendek tersebut. Saya merasa bagian dada saya terlihat ke mana–mana. Ada rasa malu yang hadir saat itu.

Setelah itu, saya kenakan jilbab yang agak lebar yang bisa menutupi dada bahkan nyaris panjangnya sampai kepinggang. Rasa nyaman melingkupi perasaan dan hati. Saya merasa telah membentengi tubuh saya sendiri. Ah, tapi rasanya belum cukup, ada yang kurang, sekarang saya juga ingin mengenakan kaos kaki.

Ya, keinginan itu datang dengan sendirinya. Kadang hilang dan tidak jarang muncul dengan sinyal yang teramat kuat. Jika diperkenankan saya ingin mengatakan mungkin itulah yang dinamakan hidayah. Dengan kebesaran Allah, saya mencoba menjalani setiap tahapan dari bisikan kecenderungan hati tersebut. Saya mencoba menjalankan radar kepekaan untuk meraba rasa malu yang datang entah dari mana. Mungkin jika saya mengabaikan bisikan itu, sampai saat ini saya tidak akan pernah bisa memulainya. Saya masih saja akan berkelit bahwa saya belum mendapatkan hidayah, atau saya akan beralasan saya belum siap, baju di rumah saya belum memadai untuk digunakan, atau bagaimana kalau nanti atasan di kantor keberatan dengan pakaian yang saya kenakan tersebut?

Ketika bisikan kebaikan itu datang, saya mencoba belajar untuk menyingkirkan segala alasan keberatan yang mengikutinya. Saya berusaha menguatkan keyakinan untuk melakukan perubahan saat itu juga.

Maka setelah itu, tidak ada satu halpun yang bisa menghalangi.
Saya ingin menikmati indahnya iman ini dengan berani memulai mengenakan pakaian takwa. Saya tidak ingin menundanya lebih lama lagi, menunggu moment yang tepat untuk memulainya.
Semua keputusan itu ada di dalam hati ini, didasar keimanan yang kadarnya tergantung dari usaha kita sendiri akan menempatkannya dalam tingkatan yang mana saja. Saya tidak ingin berada dalam keraguan dan pertimbangan terus menerus. Hingga akhirnya hidayah itu pergi tanpa saya pernah menyadarinya.

*Terimakasih Annisa & Aisya sayang, ..
Nenda_2001@yahoo.com

Nilai Sebuah 'alhamdulillah'

Oleh Alauddin

Mulailah segala sesuatu dengan basmalah dan akhirilah dengan membaca hamdalah. Tentu ajaran ini sudah di luar kepala bagi setiap muslim, walau kadang masih saja terlewat.

Namun ada sesuatu yang membuat kita mengernyitkan dahi ketika ajaran seperti itu diterapkan tidak pada tempatnya. Bisakah hal itu terjadi?

Kita ambil contoh, dalam suatu malam penganugerahan kepada para insan perfilman, seorang pemeran utama naik ke panggung dengan pakaian “seadanya” untuk menerima penghargaan sebagai pemeran terbaik, setelah menerima award seperti lazimnya, ia memberikan sepatah dua patah kata dan tak lupa ia mengucapkan salam dan puji syukur, bahkan kadang disertai sujud syukur, “Alhamdulillah berkat Allah saya dapat memenangkan award ini, bla…bla…bla…”

Di sisi lain kita tahu bagaimana, sebagai apa, peran artis tersebut dalam suatu film, memang sih aktingnya bagus, tapi dia berperan seronok yang jauh dari pesan-pesan moral dan tuntunan agama. Suatu ketulusan yang tidak pas, suatu ketulusan yang mungkin tepat waktu, tapi tidak tepat sasaran. Tepat waktu karena dia mendapatkan anugerah yang tentu tidak semua orang bisa meraihnya, tapi tidak tepat sasaran karena apa yang ia lakukan sehingga mendapat anugerah tersebut.

Contoh yang lebih sederhana, seorang pelajar atau mahasiswa, ketika dalam suatu ujian dia mengalami kebuntuan, tiba-tiba terpikir untuk melirik jawaban teman di bangku sebelah, karena tidak biasa nyontek, “deg-degan juga nih”, tapi karena godaan begitu kuat (dasar syetan!) akhirnya diputuskan juga untuk melirik jawaban dari tetangga sebelah yang kebetulan terkenal pintar, dan tak lupa dia menerapkan ajaran di awal tulisan ini, dia mengucap “Bismillaahirrahmaanirrahiim, semoga tidak ketahuan‬ dengan penuh ketulusan, lhoo….?

Seorang PSK dengan penuh kepasrahan berujar, “Walaupun pekerjaan saya seperti ini, tapi alhamdulillah saya bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak saya yang entah di mana bapaknya” weleh‮weleh …. Mungkin pula seorang pencuri, pembunuh, pemabuk, bahkan koruptor tak melewatkan membaca bismillah dan hamdalah untuk memulai dan mengakhiri aksinya. Ini sesuatu yang tidak pas, aneh, atau bagaimana ya?

Mungkin itulah gambaran sebagian penerapan ajaran agama dalam kehidupan di sekitar kita. Bagaimana dengan Anda?

Tentu saja Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kita untuk memulai sesuatu dengan menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala dan mengakhirinya dengan memuji-Nya adalah dalam hal-hal kebaikan.

Bagaimana dengan kejadian-kejadian di atas? Jangan-jangan mereka tidak sadar, walaupun sebenarnya tahu, kalau berzina, menyontek, mencuri, korupsi, adalah perbuatan yang tidak diridhai Allah subhanahu wa ta’ala, dan tidak selayaknya didahului dan diakhiri dengan menyebut nama-NYA.

Memang kadang kita tidak sadar dengan perkataan dan kelakuan kita sendiri, karena sudah menjadi kebiasaan, sebagai contoh, Sholat, karena sholat telah menjadi kebiasaan, kita telah hafal di luar kepala bacaan dan gerakan-gerakannya sampai-sampai kita mengerjakannya tanpa sadar, tiba-tiba, lho kok udah mo salam ya..??? Sungguh jauh dari khusyuk, na’udzubillah mindzaalik.

***

Allahkadang hanya diingat pada saat-saat sempit, sulit, terjepit, dan terlilit, pada saat-saat seperti itulah nama Allah muncul dalam hati kita, kemudian dengan penuh keikhlasan, ketulusan, dan menghiba kita memohon agar Allah subhanahu wata’ala mengabulkan, menyelamatkan, dan membebaskan kita dari segala lilitan tadi. Setelah bebas, di mana Dia, entah, tak muncul lagi dibenak kita nama-Nya. Hanya sebatas inikah kadar keimanan dan keberagamaan kita? Sungguh menyedihkan, tak jauh beda dengan imannya Fir’aun yang mengatakan aku beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun, namun perkataan itu tiada gunanya karena terucap di kala nyawa sudah di tenggorokan, na’udzubillah mindzaalik.

***

Setiap saat kita perlu bermuhasabah, melihat ke belakang apakah perkatan, pekerjaan, dan perilaku kita sudah sesuai dengan tuntunan dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam?

Selalu berpikirlah dengan apa yang sedang kita kerjakan ataupun kita katakan, tepatkah perkataan saya ini? Benarkah, pantaskah saya melakukannya? Mulailah dengan basmalah dan akhirilah dengan hamdalah, dengan penuh ketulusan dan khusyuk semata-mata karena Allah subhanahu wa ta’ala dan hindarilah perbuatan dan perkataan yang tidak diridhai Allah subhanahu wa ta’ala.

***

Menata Kalbu

Oleh Sus Woyo

Tahun baru di sebuah kota kecil dekat perbatasan Malaysia-Brunei Darussalam. Malam itu adalah empat hari setelah kejadian tsunami yang manghantam, Aceh, India, Srilanka dan beberapa tempat yang seperaiaran dengan daerah tersebut.

Kami berempat ke luar rumah. Dengan sebuah mobil yang tak terlalu bagus, kami mengelilingi kota minyak itu. Pusat-pusat keramaian mencoba kami datangi. Tapi tak seramai tahun-tahun sebelumnya. Bahkan ketika kami menyambangi beberapa tempat hiburan yang biasanya digunakan untuk mangkal para pekerja Indonesa, nyaris tak ada kegiatan apapun. Padahal setiap minggunya, sebelum kejadian tersebut, apalagi menjelang pergantian tahun, sudah pasti sudah berkumpul para pecandu musik dangdut untuk bergoyang. Baik laki-laki maupun perempuan.

Kami mencoba untuk beralih ke tempat lain. Menyelusuri beberapa tempat yang kami prediksi penuh keramaian. Namun semuanya di luar perkiraan kami. Semua tempat sepi, bahkan nyaris tutup. Ahirnya kami mencari sebuah kedai minum yang cocok untuk mangkal lidah-lidah kami, orang-orang Indonesia.

Kami menunggu detik-detik pergantian tahun di sebuah kedai minum yang pekerjanya semua orang Indonesia. Kami ngobrol ‘ngalor ngidul’ ke sana kemari. Dan pembahasan yang paling fokus adalah kejadian tsunami yang sedang melanda negri kami.

“Kumpul saja di sini. Tidak usah mencari-cari tempat-tempat hiburan.” kata salah seorang pelayan asal Jawa Timur. “Cukuplah tsunami itu menjadi pelajaran untuk kita, ” ia melanjutkan.

Ahirnya kami berkumpul di kedai kecil itu. Entah kenapa menjelang detik-detik pergantian tahun itu kami serasa lebih haru, lebih menyentuh. Sepertinya suasana sepi menjadikan kami lebih khusu dalam menikmati sesuatu. Seolah pembicaraan kami tentang banyaknya musibah di tanah air, menjadikan kami ikut hanyut merasakan nasib mereka.

Tahun baru di kota kecil bernama Kuala Belait itu nyaris mati. Tak ada bunyi mercon bahkan kilatan kembang api yang biasa menghiasi langit menjelang detik-detik pergantian tahun. Memang Sultan Brunei, dan para pemimpin di negara-negara Asean lainnya, juga memerintahkan kepada rakyatnya untuk tidak merayakan ulang tahun dengan kehura-huraan. Bahkan dianjurkan untuk menggelar majlis-majlis doa dan pendekatan diri kepada Allah SWT.

Menjelang detik-detik pergantian tahun, suasana kedai minum itu benar-benar sunyi. Saya merasakan tak ada seseorang di tempat itu yang berbuat lebih. Beberapa teman hanya sibuk dengan mengirim sms ke teman yang lainnya.

“Jika tak ada tsunami, pasti sudah banyak orang berbuat aneh-aneh di tahun baru ini.” Ujar seorang teman berkomentar. Yang lain menyetujui kalimat itu. Rupanya kita akan lebih tersentuh jikalau Allah menurunkan peringatan kepada kita lewat bencana alam.

Dan saat ini, ketika saya sudah di tanah air, ketika seorang teman mengajak untuk bikin acara tahun baruan, ya sekedar bakar sate misalnya, saya untuk memilih sendirian saja. Dan ketika anak saya merengek ingin melihat detik-detik pergantian tahun di dekat sebuah hotel berbintang, saya katakan padanya. “ Nak, saat ini, tak ada orang ramai-ramai bikin acara tahun baru. Mereka takut ada tsunami lagi. Sekarang, orang lebih banyak berdoa di rumah masing-masing.”

Anak saya ternyata percaya dengan itu. Saya senang sekali. Dan iseng-iseng saya buka buku “Kiai Sudrun Gugat”-nya Emha Ainun Nadjib malam itu. Dan bertemulah saya dengan sebuah alinea dalam salah satu artikel yang berbunyi:

“Jika tahun baru tiba, aku mengurung diri di kamar, seharian, semalaman. Aku selalu takut kepada keramaian, sebab dalam keramaian, manusia menari-nari di ombak nilai yang paling permukaan. Aku selalu sunyi dalam keriuhan, karena dalam keramaian, manusia hanya sekilas-sekilas memandang satu sama lain. Keramaian adalah gembok amat rapat bagi ilmu pengetahuan dan kedalaman.”

Kalimat itu cukuplah menjadikan saya untuk tak henti-henti belajar menata kalbu, menata hati setiap saat. Dan tahun baru, ataupun event-event berkala lainnya, memang sangat cocok untuk berbuat demikian.

***

Purwokerto, Malam tahun baru 2007 woyo_sus@yahoo.co.id

Sejuta: Modal untuk Menjadi Pemimpin

Oleh Sus Woyo

Namanya, sebut saja pak P. Saya mengenal lebih jauh tentang dia, ketika kami sama-sama menjadi pengurus RT. Dia menjadi sekretaris, saya menjadi bendahara. Umurnya selisih sekitar 10 tahun lebih tua dari saya.

Sebelumnya, saya hanya sebatas kenal saja, dan belum familiar, walaupun sudah lama tinggal satu RT. Lagi pula saya selalu canggung jika tanpa ada kepentingan apa-apa mengetuk pintu rumahnya. Maklum, di lingkungan kami, ia termasuk ke luarga orang-orang kaya dan terpengaruh.

Sejak bernaung satu atap dalam organisasi ke-RT-an, ahirnya saya lebih tahu bahwa ia ternyata ikut berbagai macam organisasi. Dari kepemudaan, sosial, ekonomi bahkan ia juga mengurusi organisasi kematian.

Saya banyak belajar kepada dia tentang menejemen, karena ia memang pernah lama bekerja di sebuah bank swasta. Saya juga banyak belajar tentang kesehatan dan pengobatan altenatif padanya, karena dia cukup menguasai di kedua bidang itu.

Beberapa waktu lalu, ia mengumumkan dirinya mengikuti bursa calon kepala desa. Secara pribadi saya senang sekali. Sebab desa saya butuh pemimpin yang muda, energik, punya pandangan ke depan yang baik, akses untuk ke luar daerah lebih menguasai, dan tentu saja berwawasan cukup luas.

Suatu siang, saya bersilaturrahmi kepadanya. Selama hampir setengah jam saya ngobrol dengan dia. Banyak yang kami bicarakan. Saya dengan semangat mendengarkan pandangan-pandangan brilian dia.

Dari begitu banyak yang kami obrolkan, ada satu kalimat yang selalu terngiang di telinga saya: “Saya tak punya modal materi berjuta-juta untuk mencoba jadi kades ini, Mas. Modal saya hanya sejuta saja.”

Pikiran saya langsung terbang jauh ke mana-mana. Sejuta? Wah, secara otomatis yang tergambar dalam pikiran saya adalah materi, yang tak ada lain adalah uang. Pengalaman yang lalu, menurut informasi yang saya dengar, untuk menjadi kades saat ini paling tidak harus mempunyai uang lima puluh juta, bahkan ada yang lebih.

Lantas bagaimana dengan teman saya itu? Saat saya masih terbengong-bengong, dia menerangkan bahwa sejuta itu bermakna: Senyum, serius, jujur dan takwa.

Senyum bermakna jika kalah, ia siap mengakui kenyataan dan ‘legawa’ alias ikhlas, tak akan ada niat untuk dendam dengan siapapun. Ia tetap akan menebar silaturrahmi dan menjalin kebersamaan. Serius, dia akan mengupayakan sebaik mungkin potensi yang ada pada dirinya demi kepentingan rakyat bersama. Jujur, ia akan bertindak dengan hati nurani dan tak akan membohongi diri sendiri apalagi sesama, termasuk memanipulasi suara. Takwa, tentu ia akan bertindak sesuai dengan koridor syariat-Nya.

Saya hanya bisa senyum. Terbersit dalam hati, mudah-mudahan ia bisa mewujudkan modal itu dan kelak jika ia terpilih jadi kades, bisa menjadi pemimpin yang amanah. Bukan pemimpin yang sibuk mengembalikan modal, karena sudah terlalu banyak rupiah yang disebarkan secara illegal kepada warga saat perolehan suara.

Terus terang saja, kami orang kecil ini sedang menunggu datangnya pemimpin yang amanah. Yang karena berkah amanahnya itu bisa menjadi terbentuknya sebuah tempat, negri yang 'baldah thayyibah', yang penuh ampunan dari Allah. Sehingga sedikit demi sedikit kita bisa menemukan apa itu kesejahteraan. Semoga teman saya itu bisa memulainya.

***
Purwokerto, Feb 07

Jangan Sia-siakan Anakmu, Ibu..

Oleh Cahaya Khairani

“Kasih Ibu sepanjang hayat, kasih anak sepanjang jalan”. Demikian pepatah yang menggambarkan kasih sayang Ibu yang tak lekang oleh waktu kepada anaknya. Namun rupanya pepatah itu tak berlaku bagi seorang Ibu, yang belum sempat saya ketahui namanya.

Sore itu, hujan turun cukup deras di tanah Jogja. Saya tengah dalam perjalanan untuk suatu keperluan. Tepat di bawah jembatan layang, saya melihat seorang anak berselimutkan kain spanduk dengan ditemani Ibu, kakak, dan adiknya. Menyadari mereka dalam kesusahan, saya belokkan sepeda motor saya menghampiri mereka. Anak perempuan berusia 6 tahun yang kemudian saya ketahui bernama Yanti tampak begitu pucat, tubuhnya menggigil kedinginan.

Dengan cuaca dingin setelah beberapa hari hujan, tidur hanya beralaskan sepotong kardus dan berselimutkan kain spanduk tentu membuatnya sangat kedinginan. Selintas saya teringat pada kasur empuk dan selimut tebal yang hangat di kost, ah…betapa lebih beruntungnya saya…

“Sudah tujuh hari sakit, Mbak. Batuk-batuk, muntah, buang air besar, batuk sama buang air besarnya keluar darah…”. Ujar sang ibu. Saya coba memeriksa kondisi Yanti, badannya sangat panas, dia terlihat begitu menderita. Yanti harus mendapatkan pertolongan Dokter!

Di ruang UGD Yanti menangis ketika jarum infus menusuk pergelangan tangannya yang mungil. Yanti harus dirawat beberapa hari di rumah sakit. Kakaknya, Nugroho berusia 10 tahun dan adiknya, Yanto yang berusia 3 tahun saya titipkan pada seorang teman, karena rumah sakit tidak memperbolehkan anak-anak ikut berjaga di rumah sakit.

Selama berjaga di rumah sakit sang ibu menceritakan kisah hidupnya. Dia menikah dengan seorang laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Suaminya kasar dan tak pernah di rumah apalagi memberi uang belanja untuk keperluan sehari-hari. Kalaupun pulang, bukan uang yang diberikan tetapi justru meminta uang pada isterinya. Tak tahan dengan kelakuan sang suami, sang ibu membawa ketiga anaknya hidup di jalanan. Tidur berpindah-pindah, di bawah jembatan, di pasar atau di emperan toko. Untuk mengisi perut, ia menjadikan anak-anaknya pengemis.

Menurut keterangan para ibu yang anaknya dirawat di bangsal yang sama, sang ibu kerap terlihat di perempatan jalan menunggui anaknya mengemis. Sementara anak-anaknya berpanas-panasan, berhujan-hujanan, bertaruh nyawa di tengah padatnya arus kendaraan, sang ibu bersantai-santai dengan berpayung ria menunggu anak-anaknya menyetor receh yang mereka dapatkan.

Cerita yang kerap saya dengar dan lihat dari kehidupan orang-orang yang hidup di jalanan. Pada akhirnya, anak-anak yang menjadi korban. Di jalanan, anak-anak lebih dapat menarik simpati para pemakai jalan. Uang 30 ribu, 50 ribu, bahkan lebih dapat diraup dalam waktu singkat. Berbeda halnya dengan orang dewasa. Karena itulah para orang tua yang putus asa dan berpikiran sempit menggunakan anak-anaknya untuk mencari rejeki. Walaupun ada juga orang tua yang pada awalnya tidak mengizinkan, tapi di tengah-tengah, dengan alasan himpitan ekonomi, dibiarkannya juga anak-anak mencari penghidupan di jalanan.
Setelah tujuh hari, Yanti dinyatakan sehat dari sakit Bronchitis dan muntaber yang dideritanya. Beruntung, pihak rumah sakit membebaskan biaya perawatan. Keceriaan kanak-kanak menghiasi wajah Yanti. Siapa yang menyangka, bocah manis dan lucu itu bersama dua saudaranya dengan tega oleh sang ibu ditawarkan kepada para ibu di rumah sakit untuk diambil sebagai anak. “Sudah capek saya ngurus anak-anak ini” kata sang ibu.

Niat sang ibu untuk meninggalkan anak-anaknya akhirnya diwujudkan dengan cara yang dramatis. Ketika itu, begitu Yanti keluar dari rumah sakit, saya membawa Yanti, Ibu, kakak dan adiknya ke sebuah Panti Sosial. Itulah tempat yang menurut saya dapat menjadi solusi. Dari hasil survey saya sebelumnya, Panti itu memberikan satu kamar untuk tiap keluarga, makan gratis, uang saku, dan pelatihan keterampilan agar kelak dapat mandiri. Dan yang terpenting Yanti tidak harus tidur di jalanan yang ketika siang penuh asap kendaraan, dan ketika malam diselimuti udara dingin, yang pastinya itu semua akan lebih membahayakan kesehatan Yanti yang telah terjangkit bronchitis.

Namun begitu tiba di depan Panti, sang ibu menolak untuk tinggal seperti kesepakatan kami. Dengan menggendong anaknya yang paling kecil, sang ibu berlari dan kemudian menumpangi becak yang kebetulan lewat. Saya mencoba mengejar dan mencegahnya.

“Jangan pergi, Bu. Kalau Ibu gak mau tinggal, kita bisa cari tempat yang lain. Tapi ibu gak boleh ninggalin anak-anak ibu. Yanti baru sembuh, dia butuh ibu!”.

“Saya gak mau ngurus, Mbak. Terserah Mbak mau apakan Nugroho sama Yanti”. Jawab sang ibu acuh tak acuh. Dan sang ibu pun berlalu meninggalkan kedua anaknya.Dada saya terasa sesak, air mata menetes. Peristiwa yang selama ini hanya saya lihat di sinetron, terjadi di depan mata saya…

Yanti dan kakaknya saya serahkan ke Panti Asuhan. Semakin hari kesehatan Yanti semakin membaik. Dia dan kakaknya dirawat dengan baik di sana. Mereka selalu terlihat ceria dan bahagia tiap kali saya menjenguknya. Dan yang terpenting, mereka belajar mengaji dan sholat di Panti Asuhan itu. Hal ini tentu sangat membahagiakan saya karena sebelumnya, Yanti dan Nugroho mengaku non muslim. Yanti, Nugroho dan adiknya sering bermain di halaman gereja bersama para biarawati. Pantas saja mereka memanggil saya “Suster” di awal pertemuan kami. Rupanya pakaian biarawati mereka anggap sama dengan jilbab lebar yang saya pakai.

Waktu pun berlalu. Nugroho telah bersekolah. Yanti sudah tidak sabar menunggu tahun depan untuk bersekolah. Masa depan cerah menanti mereka. Namun suatu hari, tanpa sepengetahuan pengasuh Panti Asuhan, sang ibu datang dan membawa mereka entah ke mana…

Saya baru melihat mereka kembali berbulan-bulan kemudian, di perempatan jalan, dengan penampilan kumuh tak terurus. Yanti, Nugroho dan adiknya, tengah tertawa ceria bersama sang ibu. Tak peduli padatnya lalu lintas, tak peduli teriknya matahari, tak peduli bahwa sang ibu pernah meninggalkan mereka begitu saja…

Sungguh, melihat tawa ceria anak-anak itu di tengah pahitnya hidup yang mereka lalui, saya tak habis mengerti, mengapa sang ibu tega meninggalkan mereka begitu saja…mengapa sang ibu datang kembali di saat masa depan cerah terbuka bagi mereka… mengapa sang ibu begitu tega meraup rejeki dari tangan-tangan mungil mereka yang menengadah…saya hanya dapat berdo’a semoga tidak ada lagi anak-anak bernasib sama seperti Yanti dan kedua saudaranya…

Cahaya_khairani@eramuslim.com

Thursday, February 15, 2007

Keyakinan

Oleh Hafizh Kharisma

Meminta maaf dan mengalah merupakan hal yang sulit yang dilakukan oleh manusia, terlebih ketika kita meyakini bahwa yang kita lakukan adalah benar. Namun godaan untuk berkeras hati, merasa diri paling benar adalah suatu pilihan yang bisa kita ambil kalau kita mau. Walau tentu saja berlembut hati, merasa diri juga tidak suci dan penuh khilaf merupakan pilihan lain yang mungkin justru perlu diperhitungkan untuk menyelesaikan suatu masalah. Dan itu adalah pilihanku saat ini.

Ketika ku-klikmouse untuk mengirim email permohonan maaf dan pernyataan bersalah bisa kurasakan pertentangan dalam hati bahwa mungkinkah ini langkah yang bijak? Sudah benarkah keputusanku? Yakinkah ini jalan yang terbaik?

Dan pikiranku mulai menuntunku.. untuk yakin.. untuk belajar kuat.. untuk bisa ikhlas.. semata-mata demi yang terbaik bagi orang lain, dan tentu saja ujungnya adalah bagi pertumbuhan hatiku sendiri. Ikhlas itu tidak mudah, .. sangat sulit bahkan.. karna kita melawan ego kita sendiri ketika kita yakin yang kita lakukan tak ada niat buruk sama sekali.

Ketika beberapa hari kemudian kutemui bahwa keputusan mengirim email itu justru merupakan langkah yang dimanfaatkan lawan untuk meyakinkan publik bahwa dirinya hanyalah korban.. maka kembali otak dan hati ini berputar dan meragukan kembali keputusan yang telah diambil... sempat menyesali kenapa harus kukirim email itu.. karena malah semakin mempersulit langkahku.. malah jadi menyakiti hatiku..

Tapi alhamdulillah.. tak lama setelah keluh kesahku pada Allah, seorang kawan mengirim sms: “Allah tidak pernah tidur, Dia tahu apa yang terlihat dan terdengar walau samar.. Allah menilai manusia dari niatan dan apa yang tersembunyi di hatinya.. sementara manusia hanya tau dari apa yang dia lihat dan apa yang dia dengar saja padahal itu sangat rapuh”.

Pesan singkat itu kembali menguatkanku.. sms itu memberiku semangat baru untuk tetap teguh dengan apa yang telah kuputuskan dan kuyakini..

Subhanallah, ketenangan batin justru lebih terasa nikmatnya saat kesulitan bisa kita hadapi dengan ketulusan dan pasrah hanya kepada keputusan Allah. Segala penilaian manusia lain menjadi terasa tidak penting lagi manakala kita menyadari bahwa manusia lain juga seperti kita, terbatas ilmu, terbatas pengetahuan dan terbatas kemampuan. Semoga Allah selalu menjaga hati umat muslim. Amin

Bandung, 12 Februari 2007 Disela kesibukan kantor, kuingat diri-Mu.