Friday, February 16, 2007

Energi Pelukan

Oleh Azimah Rahayu

Suatu hari di gua Hira, Muhammad SAW tengah ber'uzlah, beribadah kepada Rabbnya. Telah sekian hari ia lalui dalam rintihan, dalam doa, dalam puja dan harap pada Dia Yang Menciptanya. Tiba-tiba muncullah sesosok makhluk dalam ujud sesosok laki-laki. “Iqra!” katanya.

Muhammad SAW menjawab, “Aku tidak dapat membaca!” Laki-laki itu merengkuh Muhammad ke dalam pelukannya, kemudian mengulang kembali perintah “Iqra!” Muhammad memberikan jawaban yang sama dan peristiwa serupa pun terulang hingga tiga kali. Setelah itu, Muhammad dapat membaca kata-kata yang diajarkan lelaki itu. Di kemudian hari, kata-kata itu menjadi wahyu pertama yang yang diturunkan Allah kepada Muhammad melalui Jibril, sang makhluk bersosok laki-laki yang menemui Muhammad di gua Hira.

Sepulang dari gua Hira, Muhammad mencari Khadijah isterinya dan berkata, “Selimuti aku, selimuti aku!”. Ia gemetar ketakutan, dan saat itu, yang paling diinginkannya hanya satu, kehangatan, ketenangan dan kepercayaan dari orang yang dicintainya. Belahan jiwanya. Isterinya. Maka Khadijah pun menyelimutinya, memeluknya dan mendengarkan curahan hatinya. Kemudian ia menenangkannya dan meyakinkannya bahwa apa yang dialami Muhammad bukanlah sesuatu yang menakutkan, namun amanah yang akan sanggup ia jalankan.

***

Suatu hari dalam sebuah pelatihan manajemen kepribadian. Para instruktur yang jugapara psikolog tengah mengajarkan berbagai terapi penyembuhan permasalahan kejiwaan. Dari semua terapi yang diberikan, selalu diakhiri dengan pelukan, baik antar sesama peserta maupun oleh instrukturnya.

Namun demikian, mereka mempersilakan peserta yang tidak bersedia melakukan pelukan dengan lawan jenis untuk memilih partner pelukannya dengan yang sejenis. Yang penting tetap berupa terapi pelukan. Menurut mereka, pelukan adalah sebuah terapi paling mujarab hampir dari semua penyakit kejiwaan dan emosi. Pelukan akan memberikan perasaan nyaman dan aman bagi pelakunya.

Pelukan akan menyalurkan energi ketenangan dan kedamaian dari yang memeluk kepada yang dipeluk. Pelukan akan mengendorkan urat syaraf yang tegang. Saya yang saat itu menjadi salah satu peserta, memilih menggunakan pilihan kedua ini. Pelatihan itu, di kemudian hari memberikan perubahan besar dalam stabilitas emosi dan kejiwaan saya.

***

Apa yang saya inginkan pertama kali ketika saya sedang bersedih, marah atau apapun yang secara emosi mengguncang perasaan saya? Dipeluk suami. Pelukan itu akan menenangkan saya, membuat saya nyaman dan tenang kembali. Apa yang kami berdua lakukan setelah berantem? Saling memeluk.

Pelukan itu akan menurunkan tensi emosi di antara kami. Pelukan itu akan merekatkan kembali ikatan cinta di antara kami setelah luka dan kecewa yang sempat tertoreh. Pelukan itu, akan membuat kehidupan rumah tangga kami menjadi makin mesra. Segala sedih, segala marah, segala kecewa, dan segala beban hilang oleh kehangatan pelukan.

Pelukan itu, kemudian tidak hanya berlaku ketika saya terguncang secara emosi. Setelah setahun lebih kami menikah, pelukan telah menjadi satu kebiasaan dalam hari-hari kami. Hal pertama yang saya lakukan ketika tiba di rumah sepulang dari kantor atau dari bepergian adalah memeluk suami. Memeluknya erat-erat. Itu saja. Tak Lebih. Hal pertama yang saya inginkan ketika saya bangun dari tidur adalah memeluk dan dipeluk suami saya. Memeluknya kuat-kuat. Itu saja.

Bukan yang lainnya. Jika kami bangun pada jeda waktu yang tak sama, maka ‘utang’ kebiasaan itu dilakukan setelah shalat lail atau shalat subuh. Jika kami tidur di kamar yang berbeda, biasanya jelang subuh atau habis shubuh, salah satu dari kami akan menyusul yang lainnya. Hanya untuk satu hal saja: memeluk dan dipeluk.

Saat malam menjelang tidur, kami terbiasa tiduran dan saling memeluk, berlama-lama sambil berbincang tentang aktifitas kami seharian. Ada kata-kata yang minimal tiga kali sehari saya ucapkan kepada suami saya, ”I Love U” dan “Minta peluk!” Rasanya ada yang kurang jika kekurangan pelukan dalam sehari. Pelukan memberiku rasa aman dan nyaman. Pelukan, saya rasakan memberikan kehangatan yang tak tergantikan oleh apapun.

****

Berdasarkan hasil penelitian, kita butuh empat kali pelukan per hari untuk bertahan hidup, delapan supaya tetap sehat, dan dua belas kali untuk pertumbuhan. Jika ingin terus tumbuh, kita butuh dua belas pelukan per hari. Pelukan berkhasiat menyehatkan tubuh. Pelukan merangsang kekebalan tubuh kita. Pelukan membuat kita merasa istimewa. Pelukan memanjakan sifat kekanak-kanakan yang ada dalam diri kita. Pelukan membuat kita lebih merasa akrab dengan keluarga dan teman-teman.

Riset membuktikan bahwa pelukan dapat menyembuhkan masalah fisik dan emosional yang dihadapi manusia di zaman serba stainless steel dan wireless ini. Bukan hanya itu saja, para ahli mengemukakan bahwa pelukan bisa membuat kita panjang umur, melindungi dari penyakit, mengatasi stress dan depresi, mempererat hubungan keluarga dan membantu tidur nyenyak. (The Aladdin Factor, Jack Canfield & Mark Victor Hansen.”)

Helen Colton, penulis buku The Joy of Touching juga menemukan bahwa ketika seseorang disentuh, hemoglobin dalam darah meningkat hingga suplai oksigen ke jantung dan otak lebih lancar, badan menjadi lebih sehat dan mempercepat proses penyembuhan. Maka bisa dikatakan bahwa pelukan bisa menyembuhkan penyakit “hati” dan merangsang hasrat hidup seseorang.

Berdasarkan hasil penelitian yang dikeluarkan oleh jurnal Psychosomatic Medicine, pelukan hangat dapat melepaskan oxytocin, hormon yang berhubungan dengan perasaan cinta dan kedamaian. Hormon tersebut akan menekan hormon penyebab stres yang awalnya mendekam di tubuh.

Hasil hasil penelitian tersebut, memberikan keterangan ilmiah atas kecenderungan dalam diri setiap manusia untuk mendapatkan ketenangan dan kehangatan melalui pelukan. Penelitan tersebut memberikan fakta ilmiah atas besarnya energi yang dapat disalurkan melalui pelukan.

Sayangnya, banyak dari kita dibesarkan dalam rumah yang di dalamnya pelukan adalah sesuatu yang tidak lazim, dan kita mungkin merasa tidak nyaman minta dipeluk dan memeluk. Kita mungkin pernah digoda sebagai “si anak manja” jika sering memeluk atau dipeluk Ayah, Ibu atau saudara kandung kita. Dan jadilah kita atau remaja-remaja kita saat ini, tumbuh dengan kekurangan energi pelukan.

Bisa jadi, kekurangan energi pelukan ini adalah termasuk salah satu faktor yang menyebabkan maraknya kasus ketidakstabilan emosi manusia seperti yang terjadi belakangan ini: tingginya angka kriminalitas dan narkoba pada golongan anak dan remaja, kesurupan di berbagai sekolah dan sebagainya.

Dan bisa jadi, sesungguhnya solusi untuk mengurangi berbagai permasalahan itu sebenarnya sederhana saja: Pemberian pelukan kasih sayang yang banyak kepada anak-anak dari orang tuanya. Bukankah Rasulullah sangat gemar memeluk isteri, anak, cucu, dan bahkan anak-anak kecil di lingkungannya dengan pelukan kasih sayang? Bahkan pernah ada satu kisah ketika Rasulullah mencium dan memeluk cucunya, seorang sahabat menyatakan bahwa hingga ia punya 10 orang anak, tak satu pun yang pernah ia curahi dengan peluk cium.

Rasulullah saat itu berkomentar, “Sungguh orang yang tidak mau menyayang (sesamanya), maka dia tidak akan disayang.” (riwayat Al-Bukhari)

Rasanya, sudah sangat cukup alasan bagi saya, untuk mencurahi anak saya nanti dengan pelukan kasih sayang. Insya Allah!

Meniti Hidayah

Oleh Indah Prihanande

Rasa asing menghampiri ketika adik saya mengenakan jilbab untuk pertama kali. Saat itu saya menganggap jilbab adalah bukan pakaian modern. Jilbab hanya dikhususkan untuk guru agama, orang yang bersekolah di madrasah dan sejenisnya yang berbau agama. Tidak cukup sampai di situ, orang yang mengenakan jilbab saya anggap kuno dan tradisional.


Kesan ‘kuno’ itu semakin meyakinkan saya ketika adik saya mengenakan jilbab dan baju yang serba lebar plus di dalamnya dilapisi dengan celana panjang. Kaos kaki menjadi pelengkap yang tidak ketinggalan.

***

Bersamaan dengan itu, adik saya juga mengenakan jilbab mungil kepada putri saya yang masih bayi. Perasaan yang muncul di hati saya ketika itu adalah perasaan bangga. Bangga karena putri saya terlihat cantik, lucu, imut–imut dan menggemaskan. Tidak ada terbersit sedikitpun tentang sebuah makna berdasarkan keimanan. Saya hanya melihat indah secara fisik, itu saja.

Entah kenapa, tanpa saya sangka puteri saya itu begitu ‘taat’ mengenakan jilbabnya. Dia akan segera mengambil jilbabnya ketika saya mengajaknya keluar rumah. Tidak akan pergi ketika jilbab tersebut belum ditemukan.

Suatu waktu di dalam angkot yang pengap dan panas, karena kasihan saya ingin membuka jilbabnya tersebut, tapi dia menolak. Dia tidak menangis atau merengek, sementara itu dahinya penuh dengan titik keringat.

Kemudian, entah bermula dari mana, perlahan tapi pasti perasaan malu mulai mulai mengusik saya. Saya mulai merasa jengah ketika menggendong bayi cantik berjilbab rapi, sementara saya sebagai ibu-nya mengenakan celana jeans dan rambut yang terbuka ke mana–mana. Sungguh kontras.

Duh, saya merasa tertinggal dan ingin segera menuntaskan ketetertinggalan itu. Tapi saya tidak ingin mengenakan jilbab lebar seperti adik saya, saya ingin jilbab yang lebih pendek dan lebih bermodel. Jilbab pertama yang saya kenakan adalah berwarna cerah, bagian depannya saya lilitkan kebelakang leher, sehingga tidak terlalu menjuntai. Terlihat rapi dan lebih chic.

Kemudian, entah apa juga yang menjadi penyebabnya, lama kelamaan saya merasa jengah ketika mengenakan jilbab pendek tersebut. Saya merasa bagian dada saya terlihat ke mana–mana. Ada rasa malu yang hadir saat itu.

Setelah itu, saya kenakan jilbab yang agak lebar yang bisa menutupi dada bahkan nyaris panjangnya sampai kepinggang. Rasa nyaman melingkupi perasaan dan hati. Saya merasa telah membentengi tubuh saya sendiri. Ah, tapi rasanya belum cukup, ada yang kurang, sekarang saya juga ingin mengenakan kaos kaki.

Ya, keinginan itu datang dengan sendirinya. Kadang hilang dan tidak jarang muncul dengan sinyal yang teramat kuat. Jika diperkenankan saya ingin mengatakan mungkin itulah yang dinamakan hidayah. Dengan kebesaran Allah, saya mencoba menjalani setiap tahapan dari bisikan kecenderungan hati tersebut. Saya mencoba menjalankan radar kepekaan untuk meraba rasa malu yang datang entah dari mana. Mungkin jika saya mengabaikan bisikan itu, sampai saat ini saya tidak akan pernah bisa memulainya. Saya masih saja akan berkelit bahwa saya belum mendapatkan hidayah, atau saya akan beralasan saya belum siap, baju di rumah saya belum memadai untuk digunakan, atau bagaimana kalau nanti atasan di kantor keberatan dengan pakaian yang saya kenakan tersebut?

Ketika bisikan kebaikan itu datang, saya mencoba belajar untuk menyingkirkan segala alasan keberatan yang mengikutinya. Saya berusaha menguatkan keyakinan untuk melakukan perubahan saat itu juga.

Maka setelah itu, tidak ada satu halpun yang bisa menghalangi.
Saya ingin menikmati indahnya iman ini dengan berani memulai mengenakan pakaian takwa. Saya tidak ingin menundanya lebih lama lagi, menunggu moment yang tepat untuk memulainya.
Semua keputusan itu ada di dalam hati ini, didasar keimanan yang kadarnya tergantung dari usaha kita sendiri akan menempatkannya dalam tingkatan yang mana saja. Saya tidak ingin berada dalam keraguan dan pertimbangan terus menerus. Hingga akhirnya hidayah itu pergi tanpa saya pernah menyadarinya.

*Terimakasih Annisa & Aisya sayang, ..
Nenda_2001@yahoo.com

Nilai Sebuah 'alhamdulillah'

Oleh Alauddin

Mulailah segala sesuatu dengan basmalah dan akhirilah dengan membaca hamdalah. Tentu ajaran ini sudah di luar kepala bagi setiap muslim, walau kadang masih saja terlewat.

Namun ada sesuatu yang membuat kita mengernyitkan dahi ketika ajaran seperti itu diterapkan tidak pada tempatnya. Bisakah hal itu terjadi?

Kita ambil contoh, dalam suatu malam penganugerahan kepada para insan perfilman, seorang pemeran utama naik ke panggung dengan pakaian “seadanya” untuk menerima penghargaan sebagai pemeran terbaik, setelah menerima award seperti lazimnya, ia memberikan sepatah dua patah kata dan tak lupa ia mengucapkan salam dan puji syukur, bahkan kadang disertai sujud syukur, “Alhamdulillah berkat Allah saya dapat memenangkan award ini, bla…bla…bla…”

Di sisi lain kita tahu bagaimana, sebagai apa, peran artis tersebut dalam suatu film, memang sih aktingnya bagus, tapi dia berperan seronok yang jauh dari pesan-pesan moral dan tuntunan agama. Suatu ketulusan yang tidak pas, suatu ketulusan yang mungkin tepat waktu, tapi tidak tepat sasaran. Tepat waktu karena dia mendapatkan anugerah yang tentu tidak semua orang bisa meraihnya, tapi tidak tepat sasaran karena apa yang ia lakukan sehingga mendapat anugerah tersebut.

Contoh yang lebih sederhana, seorang pelajar atau mahasiswa, ketika dalam suatu ujian dia mengalami kebuntuan, tiba-tiba terpikir untuk melirik jawaban teman di bangku sebelah, karena tidak biasa nyontek, “deg-degan juga nih”, tapi karena godaan begitu kuat (dasar syetan!) akhirnya diputuskan juga untuk melirik jawaban dari tetangga sebelah yang kebetulan terkenal pintar, dan tak lupa dia menerapkan ajaran di awal tulisan ini, dia mengucap “Bismillaahirrahmaanirrahiim, semoga tidak ketahuan‬ dengan penuh ketulusan, lhoo….?

Seorang PSK dengan penuh kepasrahan berujar, “Walaupun pekerjaan saya seperti ini, tapi alhamdulillah saya bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak saya yang entah di mana bapaknya” weleh‮weleh …. Mungkin pula seorang pencuri, pembunuh, pemabuk, bahkan koruptor tak melewatkan membaca bismillah dan hamdalah untuk memulai dan mengakhiri aksinya. Ini sesuatu yang tidak pas, aneh, atau bagaimana ya?

Mungkin itulah gambaran sebagian penerapan ajaran agama dalam kehidupan di sekitar kita. Bagaimana dengan Anda?

Tentu saja Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kita untuk memulai sesuatu dengan menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala dan mengakhirinya dengan memuji-Nya adalah dalam hal-hal kebaikan.

Bagaimana dengan kejadian-kejadian di atas? Jangan-jangan mereka tidak sadar, walaupun sebenarnya tahu, kalau berzina, menyontek, mencuri, korupsi, adalah perbuatan yang tidak diridhai Allah subhanahu wa ta’ala, dan tidak selayaknya didahului dan diakhiri dengan menyebut nama-NYA.

Memang kadang kita tidak sadar dengan perkataan dan kelakuan kita sendiri, karena sudah menjadi kebiasaan, sebagai contoh, Sholat, karena sholat telah menjadi kebiasaan, kita telah hafal di luar kepala bacaan dan gerakan-gerakannya sampai-sampai kita mengerjakannya tanpa sadar, tiba-tiba, lho kok udah mo salam ya..??? Sungguh jauh dari khusyuk, na’udzubillah mindzaalik.

***

Allahkadang hanya diingat pada saat-saat sempit, sulit, terjepit, dan terlilit, pada saat-saat seperti itulah nama Allah muncul dalam hati kita, kemudian dengan penuh keikhlasan, ketulusan, dan menghiba kita memohon agar Allah subhanahu wata’ala mengabulkan, menyelamatkan, dan membebaskan kita dari segala lilitan tadi. Setelah bebas, di mana Dia, entah, tak muncul lagi dibenak kita nama-Nya. Hanya sebatas inikah kadar keimanan dan keberagamaan kita? Sungguh menyedihkan, tak jauh beda dengan imannya Fir’aun yang mengatakan aku beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun, namun perkataan itu tiada gunanya karena terucap di kala nyawa sudah di tenggorokan, na’udzubillah mindzaalik.

***

Setiap saat kita perlu bermuhasabah, melihat ke belakang apakah perkatan, pekerjaan, dan perilaku kita sudah sesuai dengan tuntunan dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam?

Selalu berpikirlah dengan apa yang sedang kita kerjakan ataupun kita katakan, tepatkah perkataan saya ini? Benarkah, pantaskah saya melakukannya? Mulailah dengan basmalah dan akhirilah dengan hamdalah, dengan penuh ketulusan dan khusyuk semata-mata karena Allah subhanahu wa ta’ala dan hindarilah perbuatan dan perkataan yang tidak diridhai Allah subhanahu wa ta’ala.

***

Menata Kalbu

Oleh Sus Woyo

Tahun baru di sebuah kota kecil dekat perbatasan Malaysia-Brunei Darussalam. Malam itu adalah empat hari setelah kejadian tsunami yang manghantam, Aceh, India, Srilanka dan beberapa tempat yang seperaiaran dengan daerah tersebut.

Kami berempat ke luar rumah. Dengan sebuah mobil yang tak terlalu bagus, kami mengelilingi kota minyak itu. Pusat-pusat keramaian mencoba kami datangi. Tapi tak seramai tahun-tahun sebelumnya. Bahkan ketika kami menyambangi beberapa tempat hiburan yang biasanya digunakan untuk mangkal para pekerja Indonesa, nyaris tak ada kegiatan apapun. Padahal setiap minggunya, sebelum kejadian tersebut, apalagi menjelang pergantian tahun, sudah pasti sudah berkumpul para pecandu musik dangdut untuk bergoyang. Baik laki-laki maupun perempuan.

Kami mencoba untuk beralih ke tempat lain. Menyelusuri beberapa tempat yang kami prediksi penuh keramaian. Namun semuanya di luar perkiraan kami. Semua tempat sepi, bahkan nyaris tutup. Ahirnya kami mencari sebuah kedai minum yang cocok untuk mangkal lidah-lidah kami, orang-orang Indonesia.

Kami menunggu detik-detik pergantian tahun di sebuah kedai minum yang pekerjanya semua orang Indonesia. Kami ngobrol ‘ngalor ngidul’ ke sana kemari. Dan pembahasan yang paling fokus adalah kejadian tsunami yang sedang melanda negri kami.

“Kumpul saja di sini. Tidak usah mencari-cari tempat-tempat hiburan.” kata salah seorang pelayan asal Jawa Timur. “Cukuplah tsunami itu menjadi pelajaran untuk kita, ” ia melanjutkan.

Ahirnya kami berkumpul di kedai kecil itu. Entah kenapa menjelang detik-detik pergantian tahun itu kami serasa lebih haru, lebih menyentuh. Sepertinya suasana sepi menjadikan kami lebih khusu dalam menikmati sesuatu. Seolah pembicaraan kami tentang banyaknya musibah di tanah air, menjadikan kami ikut hanyut merasakan nasib mereka.

Tahun baru di kota kecil bernama Kuala Belait itu nyaris mati. Tak ada bunyi mercon bahkan kilatan kembang api yang biasa menghiasi langit menjelang detik-detik pergantian tahun. Memang Sultan Brunei, dan para pemimpin di negara-negara Asean lainnya, juga memerintahkan kepada rakyatnya untuk tidak merayakan ulang tahun dengan kehura-huraan. Bahkan dianjurkan untuk menggelar majlis-majlis doa dan pendekatan diri kepada Allah SWT.

Menjelang detik-detik pergantian tahun, suasana kedai minum itu benar-benar sunyi. Saya merasakan tak ada seseorang di tempat itu yang berbuat lebih. Beberapa teman hanya sibuk dengan mengirim sms ke teman yang lainnya.

“Jika tak ada tsunami, pasti sudah banyak orang berbuat aneh-aneh di tahun baru ini.” Ujar seorang teman berkomentar. Yang lain menyetujui kalimat itu. Rupanya kita akan lebih tersentuh jikalau Allah menurunkan peringatan kepada kita lewat bencana alam.

Dan saat ini, ketika saya sudah di tanah air, ketika seorang teman mengajak untuk bikin acara tahun baruan, ya sekedar bakar sate misalnya, saya untuk memilih sendirian saja. Dan ketika anak saya merengek ingin melihat detik-detik pergantian tahun di dekat sebuah hotel berbintang, saya katakan padanya. “ Nak, saat ini, tak ada orang ramai-ramai bikin acara tahun baru. Mereka takut ada tsunami lagi. Sekarang, orang lebih banyak berdoa di rumah masing-masing.”

Anak saya ternyata percaya dengan itu. Saya senang sekali. Dan iseng-iseng saya buka buku “Kiai Sudrun Gugat”-nya Emha Ainun Nadjib malam itu. Dan bertemulah saya dengan sebuah alinea dalam salah satu artikel yang berbunyi:

“Jika tahun baru tiba, aku mengurung diri di kamar, seharian, semalaman. Aku selalu takut kepada keramaian, sebab dalam keramaian, manusia menari-nari di ombak nilai yang paling permukaan. Aku selalu sunyi dalam keriuhan, karena dalam keramaian, manusia hanya sekilas-sekilas memandang satu sama lain. Keramaian adalah gembok amat rapat bagi ilmu pengetahuan dan kedalaman.”

Kalimat itu cukuplah menjadikan saya untuk tak henti-henti belajar menata kalbu, menata hati setiap saat. Dan tahun baru, ataupun event-event berkala lainnya, memang sangat cocok untuk berbuat demikian.

***

Purwokerto, Malam tahun baru 2007 woyo_sus@yahoo.co.id

Sejuta: Modal untuk Menjadi Pemimpin

Oleh Sus Woyo

Namanya, sebut saja pak P. Saya mengenal lebih jauh tentang dia, ketika kami sama-sama menjadi pengurus RT. Dia menjadi sekretaris, saya menjadi bendahara. Umurnya selisih sekitar 10 tahun lebih tua dari saya.

Sebelumnya, saya hanya sebatas kenal saja, dan belum familiar, walaupun sudah lama tinggal satu RT. Lagi pula saya selalu canggung jika tanpa ada kepentingan apa-apa mengetuk pintu rumahnya. Maklum, di lingkungan kami, ia termasuk ke luarga orang-orang kaya dan terpengaruh.

Sejak bernaung satu atap dalam organisasi ke-RT-an, ahirnya saya lebih tahu bahwa ia ternyata ikut berbagai macam organisasi. Dari kepemudaan, sosial, ekonomi bahkan ia juga mengurusi organisasi kematian.

Saya banyak belajar kepada dia tentang menejemen, karena ia memang pernah lama bekerja di sebuah bank swasta. Saya juga banyak belajar tentang kesehatan dan pengobatan altenatif padanya, karena dia cukup menguasai di kedua bidang itu.

Beberapa waktu lalu, ia mengumumkan dirinya mengikuti bursa calon kepala desa. Secara pribadi saya senang sekali. Sebab desa saya butuh pemimpin yang muda, energik, punya pandangan ke depan yang baik, akses untuk ke luar daerah lebih menguasai, dan tentu saja berwawasan cukup luas.

Suatu siang, saya bersilaturrahmi kepadanya. Selama hampir setengah jam saya ngobrol dengan dia. Banyak yang kami bicarakan. Saya dengan semangat mendengarkan pandangan-pandangan brilian dia.

Dari begitu banyak yang kami obrolkan, ada satu kalimat yang selalu terngiang di telinga saya: “Saya tak punya modal materi berjuta-juta untuk mencoba jadi kades ini, Mas. Modal saya hanya sejuta saja.”

Pikiran saya langsung terbang jauh ke mana-mana. Sejuta? Wah, secara otomatis yang tergambar dalam pikiran saya adalah materi, yang tak ada lain adalah uang. Pengalaman yang lalu, menurut informasi yang saya dengar, untuk menjadi kades saat ini paling tidak harus mempunyai uang lima puluh juta, bahkan ada yang lebih.

Lantas bagaimana dengan teman saya itu? Saat saya masih terbengong-bengong, dia menerangkan bahwa sejuta itu bermakna: Senyum, serius, jujur dan takwa.

Senyum bermakna jika kalah, ia siap mengakui kenyataan dan ‘legawa’ alias ikhlas, tak akan ada niat untuk dendam dengan siapapun. Ia tetap akan menebar silaturrahmi dan menjalin kebersamaan. Serius, dia akan mengupayakan sebaik mungkin potensi yang ada pada dirinya demi kepentingan rakyat bersama. Jujur, ia akan bertindak dengan hati nurani dan tak akan membohongi diri sendiri apalagi sesama, termasuk memanipulasi suara. Takwa, tentu ia akan bertindak sesuai dengan koridor syariat-Nya.

Saya hanya bisa senyum. Terbersit dalam hati, mudah-mudahan ia bisa mewujudkan modal itu dan kelak jika ia terpilih jadi kades, bisa menjadi pemimpin yang amanah. Bukan pemimpin yang sibuk mengembalikan modal, karena sudah terlalu banyak rupiah yang disebarkan secara illegal kepada warga saat perolehan suara.

Terus terang saja, kami orang kecil ini sedang menunggu datangnya pemimpin yang amanah. Yang karena berkah amanahnya itu bisa menjadi terbentuknya sebuah tempat, negri yang 'baldah thayyibah', yang penuh ampunan dari Allah. Sehingga sedikit demi sedikit kita bisa menemukan apa itu kesejahteraan. Semoga teman saya itu bisa memulainya.

***
Purwokerto, Feb 07

Jangan Sia-siakan Anakmu, Ibu..

Oleh Cahaya Khairani

“Kasih Ibu sepanjang hayat, kasih anak sepanjang jalan”. Demikian pepatah yang menggambarkan kasih sayang Ibu yang tak lekang oleh waktu kepada anaknya. Namun rupanya pepatah itu tak berlaku bagi seorang Ibu, yang belum sempat saya ketahui namanya.

Sore itu, hujan turun cukup deras di tanah Jogja. Saya tengah dalam perjalanan untuk suatu keperluan. Tepat di bawah jembatan layang, saya melihat seorang anak berselimutkan kain spanduk dengan ditemani Ibu, kakak, dan adiknya. Menyadari mereka dalam kesusahan, saya belokkan sepeda motor saya menghampiri mereka. Anak perempuan berusia 6 tahun yang kemudian saya ketahui bernama Yanti tampak begitu pucat, tubuhnya menggigil kedinginan.

Dengan cuaca dingin setelah beberapa hari hujan, tidur hanya beralaskan sepotong kardus dan berselimutkan kain spanduk tentu membuatnya sangat kedinginan. Selintas saya teringat pada kasur empuk dan selimut tebal yang hangat di kost, ah…betapa lebih beruntungnya saya…

“Sudah tujuh hari sakit, Mbak. Batuk-batuk, muntah, buang air besar, batuk sama buang air besarnya keluar darah…”. Ujar sang ibu. Saya coba memeriksa kondisi Yanti, badannya sangat panas, dia terlihat begitu menderita. Yanti harus mendapatkan pertolongan Dokter!

Di ruang UGD Yanti menangis ketika jarum infus menusuk pergelangan tangannya yang mungil. Yanti harus dirawat beberapa hari di rumah sakit. Kakaknya, Nugroho berusia 10 tahun dan adiknya, Yanto yang berusia 3 tahun saya titipkan pada seorang teman, karena rumah sakit tidak memperbolehkan anak-anak ikut berjaga di rumah sakit.

Selama berjaga di rumah sakit sang ibu menceritakan kisah hidupnya. Dia menikah dengan seorang laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Suaminya kasar dan tak pernah di rumah apalagi memberi uang belanja untuk keperluan sehari-hari. Kalaupun pulang, bukan uang yang diberikan tetapi justru meminta uang pada isterinya. Tak tahan dengan kelakuan sang suami, sang ibu membawa ketiga anaknya hidup di jalanan. Tidur berpindah-pindah, di bawah jembatan, di pasar atau di emperan toko. Untuk mengisi perut, ia menjadikan anak-anaknya pengemis.

Menurut keterangan para ibu yang anaknya dirawat di bangsal yang sama, sang ibu kerap terlihat di perempatan jalan menunggui anaknya mengemis. Sementara anak-anaknya berpanas-panasan, berhujan-hujanan, bertaruh nyawa di tengah padatnya arus kendaraan, sang ibu bersantai-santai dengan berpayung ria menunggu anak-anaknya menyetor receh yang mereka dapatkan.

Cerita yang kerap saya dengar dan lihat dari kehidupan orang-orang yang hidup di jalanan. Pada akhirnya, anak-anak yang menjadi korban. Di jalanan, anak-anak lebih dapat menarik simpati para pemakai jalan. Uang 30 ribu, 50 ribu, bahkan lebih dapat diraup dalam waktu singkat. Berbeda halnya dengan orang dewasa. Karena itulah para orang tua yang putus asa dan berpikiran sempit menggunakan anak-anaknya untuk mencari rejeki. Walaupun ada juga orang tua yang pada awalnya tidak mengizinkan, tapi di tengah-tengah, dengan alasan himpitan ekonomi, dibiarkannya juga anak-anak mencari penghidupan di jalanan.
Setelah tujuh hari, Yanti dinyatakan sehat dari sakit Bronchitis dan muntaber yang dideritanya. Beruntung, pihak rumah sakit membebaskan biaya perawatan. Keceriaan kanak-kanak menghiasi wajah Yanti. Siapa yang menyangka, bocah manis dan lucu itu bersama dua saudaranya dengan tega oleh sang ibu ditawarkan kepada para ibu di rumah sakit untuk diambil sebagai anak. “Sudah capek saya ngurus anak-anak ini” kata sang ibu.

Niat sang ibu untuk meninggalkan anak-anaknya akhirnya diwujudkan dengan cara yang dramatis. Ketika itu, begitu Yanti keluar dari rumah sakit, saya membawa Yanti, Ibu, kakak dan adiknya ke sebuah Panti Sosial. Itulah tempat yang menurut saya dapat menjadi solusi. Dari hasil survey saya sebelumnya, Panti itu memberikan satu kamar untuk tiap keluarga, makan gratis, uang saku, dan pelatihan keterampilan agar kelak dapat mandiri. Dan yang terpenting Yanti tidak harus tidur di jalanan yang ketika siang penuh asap kendaraan, dan ketika malam diselimuti udara dingin, yang pastinya itu semua akan lebih membahayakan kesehatan Yanti yang telah terjangkit bronchitis.

Namun begitu tiba di depan Panti, sang ibu menolak untuk tinggal seperti kesepakatan kami. Dengan menggendong anaknya yang paling kecil, sang ibu berlari dan kemudian menumpangi becak yang kebetulan lewat. Saya mencoba mengejar dan mencegahnya.

“Jangan pergi, Bu. Kalau Ibu gak mau tinggal, kita bisa cari tempat yang lain. Tapi ibu gak boleh ninggalin anak-anak ibu. Yanti baru sembuh, dia butuh ibu!”.

“Saya gak mau ngurus, Mbak. Terserah Mbak mau apakan Nugroho sama Yanti”. Jawab sang ibu acuh tak acuh. Dan sang ibu pun berlalu meninggalkan kedua anaknya.Dada saya terasa sesak, air mata menetes. Peristiwa yang selama ini hanya saya lihat di sinetron, terjadi di depan mata saya…

Yanti dan kakaknya saya serahkan ke Panti Asuhan. Semakin hari kesehatan Yanti semakin membaik. Dia dan kakaknya dirawat dengan baik di sana. Mereka selalu terlihat ceria dan bahagia tiap kali saya menjenguknya. Dan yang terpenting, mereka belajar mengaji dan sholat di Panti Asuhan itu. Hal ini tentu sangat membahagiakan saya karena sebelumnya, Yanti dan Nugroho mengaku non muslim. Yanti, Nugroho dan adiknya sering bermain di halaman gereja bersama para biarawati. Pantas saja mereka memanggil saya “Suster” di awal pertemuan kami. Rupanya pakaian biarawati mereka anggap sama dengan jilbab lebar yang saya pakai.

Waktu pun berlalu. Nugroho telah bersekolah. Yanti sudah tidak sabar menunggu tahun depan untuk bersekolah. Masa depan cerah menanti mereka. Namun suatu hari, tanpa sepengetahuan pengasuh Panti Asuhan, sang ibu datang dan membawa mereka entah ke mana…

Saya baru melihat mereka kembali berbulan-bulan kemudian, di perempatan jalan, dengan penampilan kumuh tak terurus. Yanti, Nugroho dan adiknya, tengah tertawa ceria bersama sang ibu. Tak peduli padatnya lalu lintas, tak peduli teriknya matahari, tak peduli bahwa sang ibu pernah meninggalkan mereka begitu saja…

Sungguh, melihat tawa ceria anak-anak itu di tengah pahitnya hidup yang mereka lalui, saya tak habis mengerti, mengapa sang ibu tega meninggalkan mereka begitu saja…mengapa sang ibu datang kembali di saat masa depan cerah terbuka bagi mereka… mengapa sang ibu begitu tega meraup rejeki dari tangan-tangan mungil mereka yang menengadah…saya hanya dapat berdo’a semoga tidak ada lagi anak-anak bernasib sama seperti Yanti dan kedua saudaranya…

Cahaya_khairani@eramuslim.com

Thursday, February 15, 2007

Keyakinan

Oleh Hafizh Kharisma

Meminta maaf dan mengalah merupakan hal yang sulit yang dilakukan oleh manusia, terlebih ketika kita meyakini bahwa yang kita lakukan adalah benar. Namun godaan untuk berkeras hati, merasa diri paling benar adalah suatu pilihan yang bisa kita ambil kalau kita mau. Walau tentu saja berlembut hati, merasa diri juga tidak suci dan penuh khilaf merupakan pilihan lain yang mungkin justru perlu diperhitungkan untuk menyelesaikan suatu masalah. Dan itu adalah pilihanku saat ini.

Ketika ku-klikmouse untuk mengirim email permohonan maaf dan pernyataan bersalah bisa kurasakan pertentangan dalam hati bahwa mungkinkah ini langkah yang bijak? Sudah benarkah keputusanku? Yakinkah ini jalan yang terbaik?

Dan pikiranku mulai menuntunku.. untuk yakin.. untuk belajar kuat.. untuk bisa ikhlas.. semata-mata demi yang terbaik bagi orang lain, dan tentu saja ujungnya adalah bagi pertumbuhan hatiku sendiri. Ikhlas itu tidak mudah, .. sangat sulit bahkan.. karna kita melawan ego kita sendiri ketika kita yakin yang kita lakukan tak ada niat buruk sama sekali.

Ketika beberapa hari kemudian kutemui bahwa keputusan mengirim email itu justru merupakan langkah yang dimanfaatkan lawan untuk meyakinkan publik bahwa dirinya hanyalah korban.. maka kembali otak dan hati ini berputar dan meragukan kembali keputusan yang telah diambil... sempat menyesali kenapa harus kukirim email itu.. karena malah semakin mempersulit langkahku.. malah jadi menyakiti hatiku..

Tapi alhamdulillah.. tak lama setelah keluh kesahku pada Allah, seorang kawan mengirim sms: “Allah tidak pernah tidur, Dia tahu apa yang terlihat dan terdengar walau samar.. Allah menilai manusia dari niatan dan apa yang tersembunyi di hatinya.. sementara manusia hanya tau dari apa yang dia lihat dan apa yang dia dengar saja padahal itu sangat rapuh”.

Pesan singkat itu kembali menguatkanku.. sms itu memberiku semangat baru untuk tetap teguh dengan apa yang telah kuputuskan dan kuyakini..

Subhanallah, ketenangan batin justru lebih terasa nikmatnya saat kesulitan bisa kita hadapi dengan ketulusan dan pasrah hanya kepada keputusan Allah. Segala penilaian manusia lain menjadi terasa tidak penting lagi manakala kita menyadari bahwa manusia lain juga seperti kita, terbatas ilmu, terbatas pengetahuan dan terbatas kemampuan. Semoga Allah selalu menjaga hati umat muslim. Amin

Bandung, 12 Februari 2007 Disela kesibukan kantor, kuingat diri-Mu.