Friday, March 9, 2007

Doa Untuk Kekasih

Allah yang Maha Pemurah...

Terima kasih Engkau telah menciptakan dia
dan mempertemukan saya dengannya.

Terima kasih untuk saat - saat indah
yang dapat kami nikmati bersama.

Terima kasih untuk setiap pertemuan
yang dapat kami lalui bersama.

Saya datang bersujud dihadapanMU...

Sucikan hati saya ya Allah, sehingga dapat melaksanakan kehendak dan rencanaMU dalam hidup saya.

Ya Allah, jika saya bukan pemilik tulang rusuknya, janganlah biarkan saya merindukan kehadirannya...
janganlah biarkan saya, melabuhkan hati saya dihatinya..
kikislah pesonanya dari pelupuk mata saya dan jauhkan dia dari relung hati saya...

Gantilah damba kerinduan dan cinta yang bersemayam didada ini dengan kasih dari dan padaMU yang tulus, murni...
dan tolonglah saya agar dapat mengasihinya sebagai sahabat.

Tetapi jika Engkau ciptakan dia untuk saya...
ya Allah tolong satukan hati kami...
bantulah saya untuk mencintai, mengerti dan menerima dia seutuhnya...
berikan saya kesabaran, ketekunan dan kesungguhan untuk memenangkan hatinya...

Ridhoi dia, agar dia juga mencintai, mengerti dan mau menerima saya dengan segala kelebihan dan kekurangan saya
sebagaimana telah Engkau ciptakan...

Yakinkanlah dia bahwa saya sungguh - sungguh mencintai dan rela membagi suka dan duka saya dengan dia...

Ya Allah Maha Pengasih, dengarkanlah doa saya ini...
lepaskanlah saya dari keraguan ini menurut kasih dan kehendakMU...

Allah yang Maha kekal, saya mengerti bahwa Engkau senantiasa memberikan yang terbaik untuk saya...
luka dan keraguan yang saya alami, pasti ada hikmahnya.

Pergumulan ini mengajarkan saya untuk hidup makin dekat kepadaMU untuk lebih peka terhadap suaraMU yang membimbing saya menuju terangMU...

Ajarkan saya untuk tetap setia dan sabar menanti tibanya waktu yang telah Engkau tentukan....

Jadikanlah kehendakMU dan bukan kehendak saya yang menjadi dalam setiap bagian hidup saya...

Ya Allah, semoga Engkau mendengarkan dan mengabulkan permohonanku.

Amien


Our Wedding

OUR WEDDING

Menikah
Akhmad Sekhu & Eni Jupitasari
Akad Nikah
Jum'at,06 April 2007
Pukul 08.00 WIB ~ Selesai
Masjid Al Ishlah
Perum Bukit Tiara_Cikupa_Tangerang





Sunday, March 4, 2007

Mata Kuliah dari Seorang Pemulung

Oleh Sus Woyo


Hujan rintik-rintik tiba-tiba mengguyur kawasan kampus di kota saya. Saya bergegas masuk ke sebuah warung bubur langganan para mahasiswa di depan fakultas teknik sebuah PTN. Di sudut warung tersebut, seorang lelaki berkumis sedang begitu santai menikmati segelas kopi dan sebatang rokok kretek. Saya duduk tak begitu jauh darinya.

Ketika hujan mulai lebat, laki-laki itu memarkir sepeda untanya lebih dekat ke warung tersebut, agar tumpukan kardus dan kantong semen tidak basah. Setelah sebelumnya dengan amat sopan dia meminta izin kepada si pemilik warung bubur.

Ia memperkenalkan dirinya kepada saya sebagai seorang pemulung, dan di samping menjadi tukang pemungut barang-barang bekas, ia kadang juga memanfaatkan sedikit keahliannya sebagai seorang pemijat. Ia bercerita panjang lebar tentang sejarah hidupnya.

“Mas, ” katanya kepada saya. “Beberapa waktu lalu, saya ini ditawari suatu pekerjaan dengan gaji sehari empat ratus ribu rupiah, diberi fasilitas motor baru, handphone sekaligus pulsanya sekalian. Tapi saya menolak pekerjaan itu.”

Saya sempat terbelalak mendengar penuturannya. Dengan perasaan yang masih heran, saya mencoba bertanya lagi. “Pekerjaan seperti apakah itu pak, kok begitu menggiurkan dan bapak sendiri menolaknya.”

“Kurir sabu-sabu, ” jawabnya bersemangat. “Lebih baik usus saya nempel di perut karena lapar daripada harus menjadi bagian dari pekerjaan haram. Saya lebih mulia menjadi seorang pemungut kardus dan kantong semen daripada ke empat anak saya makan barang tidak halal.”

Saya makin serius mendengarkan kalimat-kalimat indah yang meluncur dari sosok yang amat sederhana ini. Ia juga bercerita panjang lebar tentang situasi dan kondisi kontemporer. Tak ketinggalan ia juga bicara soal musibah yang seolah tak kan pernah berhenti mengguncang negeri ini.

Sekali-sekali terdengar juga ia mengkritisi tingkah polah manusia pada umumnya. Tak hanya pemimpin, dan kaum cerdik pandai yang ia kritisi, tapi rakyat jelata seperti kamipun tak lepas dari kritikannya.

Ia tampak menyesal sekali ketika melihat di ibukota negara, -yang kata dia- adalah tempat berkumpulnya orang-orang pinter, orang-orang yang gelar akademiknya sampai satu meter, tapi kenapa dalam menangani flu burung saja, mesti unggasnya yang dibantai?

Ia mengajak kami untuk mempelajari hadits Nabi tentang lalat yang beracun. “Ketika lalat itu masuk ke dalam minuman, dan hanya satu sayapnya saja yang tenggelam, maka Nabi memerintahkan agar meneggelamkan sayap yang satunya lagi. Sebab di sayap yang satu itu ada penawar racun.” Ujarnya bersemangat.

“Barangkali, dalam tubuh unggas itu justru ada penawar untuk flu burung.” Tambahnya, sambil menghimbau para pakar kesehatan dan peternakan untuk lebih intensif lagi meneliti tentang hal ini.

“Lantas, ” tanya saya. “Menurut bapak, solusi apakah yang paling tepat untuk mengatasi negri yang makin hari makin parah ini.”

“Tak ada lain Mas, kecuali kita harus cepat-cepat bertaubat kepada-Nya. Kita harus membuka kembali kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada kita.”

Saya hanya tersenyum sambil melihat wajah bersih laki-laki yang seolah begitu nikmat menjalani hidup ini, walaupun hanya berkendaraan sepeda unta yang tua dan pekerjaannya hanya menjadi tukang pungut kardus dan kantong semen.

Saya, pemilik warung bubur yang asli Kuningan, dan seorang mahasiswa yang sedang melahap bubur, terangguk-angguk diberi mata kuliah dari seorang pemulung sederhana itu. Saya sebenarnya ingin lebih lama lagi berbincang dengan dia, sayang waktu makin merambat sore. Saya makin rindu saja dengan sosok sederhana yang ternyata sarat ilmu kehidupan itu.

***

Purwokerto, Feb 2007

Doakan Pernikahan Kami Hingga ke Sorga

Oleh Andi Sri Suriati Amal

Orangnya sederhana, polos, baik hati dan terkesan agak kaku. Begitulah kira-kira gambaran yang saya tangkap tentangnya. Tapi di balik kesederhanaan dan kepolosannya saya menemukan sesuatu yang -menurutku- istimewa. Jalan pikirannya yang kadang-kadang susah dimengerti oleh banyak orang. Belum lagi sikap keukeuhnya yang bikin sebagian orang malas meladeninya lama-lama.

Dia berbeda dari kebanyakan orang yang saya kenal. Tapi saya senang mendengar semua ceritanya. Justru dari situlah saya tahu dia memiliki keistimewaan.

Dari kisahnya saya tahu betapa kuat keinginannya mewujudkan rumah tangga sakinah, mawaddah wa rahmah. Tapi ini tidak mudah baginya, sebab pendidikan formalnya tidak tinggi. Pengetahuan agamanya pun pas-pasan. Sementara suaminya seorang muallaf, dari lain bangsa dan negara pula. Suami masih belum bisa meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama, keluhnya. Meski tidak sampai membuatnya putus asa, hal itu cukup membuatnya terganggu, kadang bahkan menyebabkan konflik.

Susah mengajak suaminya untuk lebih jauh mendalami agama tidak menyusutkan semangatnya untuk terus belajar. Dia bahkan tidak pernah lelah pergi menemani anaknya belajar mengaji dan fardhu ain. Seringkali bahkan menunggui selama berjam-jam. Walhasil, anak lelakinya yang baru berumur 7 tahun itupun sudah bisa membaca Qur'an dan menghafal beberapa surah pendek. Bahkan sudah hafal beberapa hadis dan juga tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu.

Anaknya itu memang berbeda dengan banyak anak yang lahir di negeri yang serba bebas ini. Biasanya anak-anak di sini dibebaskan memilih sendiri pelajaran apa yang mereka suka sebagai tambahan di samping pelajaran sekolah. Kebanyakan mereka tidak sempat lagi belajar mengaji karena waktunya sudah penuh dengan les-les lain seperti main piano, ballet atau matematika.

Saya ikut terharu ketika dengan senangnya dia bercerita bagaimana anaknya itu mengajak bapaknya ikut sholat berjamaah bersama mereka. Meskipun susah pada awalnya, tapi dia lumayan lega karena suaminya mau duduk bersama dan berdiam diri menyaksikan mereka sholat. Alasannya, sholat itu cukup dengan mengingat Allah saja. Tentu saja hal ini membuat si anak tidak diam saja. Anak kecil itupun mencoba mendebat bapaknya, yang tentu saja berakhir si kecil ngambek dan kesal sama bapaknya.

Dengan kesal dia bilang ke mamanya, "Ah, sudahlah Ma. Tak usah pedulilah dengan bapak itu." Dijawabnya, "Sabar Nak, tidak boleh begitu. Kita harus berusaha terus agar bapak mau sholat dan sebagainya. Kamu sayang kan sama bapak? Coba bayangkan, jika kamu kelak masuk surga terus melihat bapak kamu dilempar ke neraka. Sedih gak kamu? Kamu pasti menangis. Karena itu jangan pernah menyerah. Kita usahakan dan doakan terus agar bapak terbuka hatinya dan mendapat hidayah."

Tidak jarang juga percekcokan terjadi antara dirinya dan suaminya jika kesabarannya hilang. Bahkan pernah sampai putus asa dan timbul keinginan untuk berpisah dari suaminya. Tapi ketika disadarinya bahwa suaminya itu adalah anugerah sekaligus tanggungjawab baginya, diurungkannya niatnya. Batapa tidak, suaminya telah bersedia menikahinya dan masuk Islam karenanya adalah sesuatu yang sangat berharga baginya. Meskipun tidak sedikit dari keluarga besarnya yang menentang pernikahan itu. Mereka kebanyakan khawatir kalau dirinya yang akan 'terbawa' oleh suaminya.

Bercerai bukanlah hal yang sulit di negeri ini. Asal ada alasan, si isteri bisa saja dengan mudah menggugat cerai suaminya. Dan meskipun sudah bercerai, isteri tidak perlu khawatir tentang biaya hidupnya kelak. Karena bila bercerai menurut hukum di Jerman, suami tetap berkewajiban untuk membiayai isteri begitu juga anak-anaknya hingga mereka berumur 18 tahun. Tapi saran dari sebagian temannya agar bercerai saja tidak dipedulikannya.

Suatu waktu dengan suara lirih dia mengatakan padaku, "Saya menyayangi suami saya. Saya ingin pernikahan kami tidak hanya di dunia saja. Saya berharap terus bersamanya hingga ke syurga kelak. Mohon doanya ya..."

Mungkinkah segala yang diimpikannya terkabul? Sulit baginya membayangkannya. Tapi dia percaya bahwa Allah mencintai dirinya dan keluarganya. Kehamilan keduanya setelah kelahiran anak pertamanya tujuh tahun lalu menurutnya adalah bukti kasih sayang Allah kepada keluarganya. Dan sebagai penyemangat baginya untuk terus bersyukur dan berjuang di jalan-Nya.

Frankfurt, 9 Februari 2007

Doa Seorang Calon Pengantin

Oleh Ekaerawati

Kalaulah ada kisah di zaman dahulu bahwa ada satu orang di antara tiga orang yang bisa bertawasul dengan amalannya untuk bisa membuka batu yang menghimpit pintu gua, maka aku tertarik dengan tawasulnya. Demiuntuk menghindari zina dengan perempuan yang diberinya uang dengan tebusan tubuhnya walaupun ia mudah melakukannya.

Kalaulah ada kisah tentang pernikahan dan syarat maharnya, maka kisah Ummu Sulaim yang merelakan keIslaman Abu Tholhah adalah sungguh mengharukan. Dan juga kesederhanaan Ali ra menikahi Fathimah dengan baju besinya.

Saksikanlah ya Robbi, aku pun ingin menjadi Ummu Sulim dan Fathimah. Keduanya tidak mensyaratkan emas dan berlian sebagai penebusan kehalalan calon suami menyentuh tubuhnya.

Cukup dengan hafalan surat Ar-Rahman dan tafsir Ibnu kastir. Itupun masih dengan keringanan, tafsirnya boleh dicicil setelah kami menikah nanti.

Saksikanlah ya Robbi…aku pun ingin mencontoh sang lelaki yang terjebak di gua tadi. Aku pun ingin bertawasul dengan upayaku untuk menghindari zina. Walapun peluang ke sana sangat mungkin.

Banyak lelaki yang mengincarku sejak wajahku memancarkan pesonanya di bangku SMA. Tapi aku takut untuk pacaran. Aku bertekad bahwa cinta yang satu itu hanya kuberikan pada lelaki yang halal untuk memuaskan libidoku dan menjadi salah satu pembuka jalan menggapai surga-Mu

Maka saat kuputuskan setelah hari-hari berkonsultasi dalam sujud-sujud istikharah 3 bulan yang lalu untuk mengucapkan “ya”, aku berusaha untuk tidak mendapat murka-Mu, dengan berlama-lama dalam waktu atau menunda-nundanya, sehingga terjebak dalam rimba cinta tanpa status dan fitnah dunia.

Pun kuberusaha menangkis serangan kata-kata romantisnya untuk ditunda hingga saat dia menucapkan “qobiltu nikahaha…” (kuterima nikahnya).

Maaf ya Allah, jika hari ini aku harus banjir air mata, saat aku baru bisa menjawab pertanyaan orangtuaku, “Kamu punya uang tho untuk menikah?”. “Ya insya Allah diusahakan dan mohon waktunya."

Walaupun aku tahu sekarang hanya beberapa lembar puluhan ribu hasil sisa kas bon di tempat kerjaku yang kupersiapkan untuk bekal sisa bulan ini. “Pokoknya minimal 6-7 juta harus ada lho, ya", begitu suara ibu di sebrang memberi batas minimal dana yang harus kusediakan.

Ya…Rozak aku yakin Engkau Maha kaya untuk tidak sampai membuatku merepotkan kedua orangtuaku, membebani saudara-saudaraku atau mengemis pada sesuatu selain-Mu.

Aku masih percaya ya Allah…kalau pernikahan ini juga sebagai upaya menolong agama-Mu, maka hamba yakin engkau mau menolongku. Hamba masih yakin dengan hadist Qudsi yang berbunyi “Bahwa Allah malu jika tidak mengabulkan permintaan hamba-Nya yang menengadahkan tangan di sepertiga malam terakhir”.

Aku tidak ingin berujung pada keputusasaan.

Ya Rahman..ya Rahim…Jika memang pernikahan ini akan semakin membuat Engkau meridhaiku, maka mudahkan dan lancarkan. Dan satukanlah kami dam jalinan kasih yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Amien.

Redaksi menerima kiriman artikel untuk rubrik Oase Iman.

SMS Penguat Hati

Oleh Hafizh Kharisma

“Allah tidak akan menguji seseorang diluar batas kemampuannya. Allah Maha Mengetahui yang terbaik bagi umatNya. Kitalah yang harus bisa ambil hikmahnya, agar tak sia-sia waktu yang kita habiskan tiap harinya. Cinta ayah pada mama dan anak-anak akan menguatkan ayah! Sun.”

Barisan kalimat sms itu membuat hatiku bergelenyar, rasa rindu kian menusuk-nusuk menuntun tetesan air mata jatuh dipipi. Tak peduli aku ini lelaki, tak peduli seharusnya aku lebih kuat, kenyataannya aku merasa begitu lemah, rasanya tak sanggup berpisah jauh dan lama dari anak-isteri.

Tiap hari hanya menghitung waktu, 3 bulan sudah aku di sini, Soroako, kota kecil dikelilingi danau. Sendiri. Anak dan isteriku tinggal di Bandung. Isteriku bekerja dan masih ikatan dinas sehingga ia tak bisa meninggalkan pekerjaannya untuk ikut bergabung denganku di sini. Mutasi kali ini terasa berat sekali, entahlah, mungkin karena memang sejak awal aku berharap hanya mutasi di pulau Jawa saja brangkali.

Kusadari bahwa sms-ku pada isteriku tiap hari hanya berisikan keluhan atas ketidaknyamananku, kesepianku dan kejenuhan yang terasa membebaniku. Dan isteriku tak pernah melewatkan satu pun sms-ku tanpa balasannya. Dengan kalimat yang sama, “semoga ayah kuat dan sabar” selalu kalimat itu dan dengan sedikit kesal selalu kujawab dengan kalimat datar “ya mang itu kan yang harus ayah lakukan, sabar.”

Dan setelah itu biasanya isteriku tak membalas, seakan menunggu waktu yang tepat agar itu terlupakan dan tidak membuatku emosi. Dia sangat mengenal seluruh kebiasaanku, kadang bahkan bisa menerka rencana tindakanku.

Pernah suatu waktu aku kembali mengeluh, menyatakan ingin segera pulang dan sepintas menyebutkan angan2ku bahwa aku ada keinginan untuk keluar kerja saja dan mencari kerja baru di Bandung agar kami bisa selalu bersama. Dia malah mempertanyakan kesiapanku bila nanti ternyata malah jadi pengangguran mengingat cari kerja saat ini tidaklah mudah dan untuk usiaku yang telah menginjak angka 37 tentulah sangat sulit.

Saat itu aku merasa dia tak lagi mementingkan kebersamaan, dia pasti ketakutan aku tidak memberinya nafkah dan mungkin juga malu bila punya suami pengangguran. Tapi nyatanya dia langsung menelponku dan dengan suaranya yang kekanakan dia berkata:

Ayah jangan salah paham dulu ya, mama ga takut loh jatuh miskin bila itu kehendak Allah. Mama juga gak akan gengsi punya suami pengangguran bila hal itu memang yang terbaik buat keluarga kita. Mama cuma takut ayah salah ambil keputusan dan menyesalinya kemudian. Mama cuma kuatir ayah seneng aja tinggal bareng lagi ama kita untuk 2-3 bulan dan sementara itu kalo ayah masih nganggur ato belum dapet kerja ntar ayah jadi rendah diri ato meributkan mama yang kerja dari pagi dan pulang sore setiap harinya. Mama siap ko apapun keputusan ayah, selama ayah siap dengan segala resikonya”.

Duh, dia selalu tahu bagaimana menghadapi situasi, atas hal itu aku memujanya.

Dan hari ini, saat hari libur seperti ini, kesepian dan kejenuhan terasa berlipat-lipat lebih daripada hari-hari kerja. Lagi-lagi tanpa kusadari aku kembali mengirim sms yang menceritakan kesepian, kebosanan dan kepasrahan atas kondisi yang ada. Dan seperti itulah jawabannya. Namun kali ini terasa beda di hatiku, dipikiranku. Mungkin benar seperti katanya bahwa ini pastilah yang terbaik bagiku, bagi kami karena Allah-lah yang telah menentukan situasi ini.

Dan kucoba yakini hatiku demi rasa cinta yang ada bahwa perjalanan ini hanyalah sebuah episode saja yang nantinya akan berakhir bahagia. Kesabaran isteriku seharusnya menjadikanku lebih sabar lagi dan kekuatannya tentulah telah membuatku lebih kuat lagi selama ini.. Aku tak mau lagi menyia-nyiakan waktu yang tersisa di sini hanya untuk termenung. Pastilah ujian ini akan ada akhirnya dan kusiapkan diriku untuk jadi lebih baik lagi manakala ada saatnya bagi kami untuk bertemu dan bersatu kembali.

Menjelang sore, 19 Feb 2007 Alhamdulillah, kurindukan engkau karna Allah yang memberikanmu padaku. Semoga Allah senantiasa memberi kita kekuatan dan kesabaran.